Eiwa 20 – Neraka? Aku Berlibur di Sana

Bagaimanakah kalian menghabiskan musim panas? Dengan berjemur di tepi danau sambil membakar ikan atau jamur merang? Atau mengunjungi keluarga jauh sambil bergunjing gosip-gosip yang murah nan meriah? Kadang aku berpikir, mungkin itu menyenangkan, hanya saja sepertinya musim panasku kali ini tidak demikian.

“Awas belakangmu!” … “Refleksmu buruk sekali!” … “Ulangi! Ini memalukan!” … “Itu hanya kadal kecil, kenapa ragu?!” … “Punya ribuan gulungan sihir, tapi tidak bisa menggunakan satu pun dengan baik, apa saja yang kamu pelajari selama ini?!”

Ah…, tiba-tiba bidadariku berubah menjadi malaikat kematian.

Memangnya aku punya mata di belakang kepalaku? Bagaimana membuat perisai sihir tepat waktu dari serangan halilintar di jarak sejengkal menjadi penanda refleks yang buruk? Setelah ratusan ribu kali mengulangi sihir yang sama, apa tidak cukup? Bagaimana raja salamander api – salah satu penguasa belantara – dikatakan sebagai kadal kecil yang imut? Sial, bahkan menguasai sejuta gulungan sihir tidak akan membuatku bisa menarik napas lega di atas neraka ini.Read more

Eiwa 19 – Bakat Berlebihan adalah Dosa

Saat aku membuka kembali mataku, udara segar Danau Sembilan Warna kembali menyambutku. Setelah mengunjungi dunia yang serba putih, kembali ke dunia yang penuh warna di bawah langit biru memberikan rasa nyaman tak terkira dalam diriku.

Selain pemandangan lepas yang selalu didambakan oleh mereka yang dekat dengan semesta, di hadapanku juga berdiri dalam jubah putih yang berkibar-kibar diterpa angin – tampak punggung tegap dari remaja perempuan yang namanya pernah bergema di seluruh daratan dua ribu tahun yang lalu.

Jika bukan aku sendiri yang menyaksikannya, aku tidak akan percaya akan sosok yang ada di hadapanku ini.

“Ah, sudah cukup lama aku tidak menghirup udara luar.” – Aku bisa melihat pundak yang naik dan diikuti dengan embusan napas yang kuat.

Mungkin ada secarik senyuman dari wajahnya yang tidak tampak olehku?

“Kak Snotra, apakah kakak selalu ada di dalam perpustakaan?”

“Kebanyakan waktu, dan membaca itu menyenangkan tahu.” Lalu dia berbalik dan menatapku, sungguh – wajah seperti malaikat itu – bisa membuat setiap orang berhenti bernapas. “Eiwa, kamu harus banyak membaca, untuk menjadi penyihir, seseorang tidak hanya cukup dengan bakat, pengetahuan dan latihan adalah bagian yang tidak terpisahkan.”

“Baik.”

“Sekarang aku harus melihat dulu, sampai mana kemampuanmu.”Read more

Eiwa 18 – Sang Penyihir

Untungnya Nona Snotra hanya tertawa mendengar pertanyaanku. Sepertinya dia paham bahwa aku mungkin terlalu gugup dalam pertemuan mendadak kami. Aku sendiri menjadi salah tingkah, karena sama sekali tidak menyangka ada pertemuan seperti. Sepertinya ini pertama kali aku bertemu seseorang yang seakan-akan bisa langsung melihat menembus ke relung jiwaku.

“Baiklah.” Jawabnya singkat, “Aku akan menjelaskannya padamu. Setiap orang memiliki usia hidup yang sama. Kamu tahu berapa rata-rata usia manusia?”

“120 tahun.”

“Ya. Hanya saja semua itu tergantung pada kesehatan seseorang. Seseorang bisa menemui kematian lebih awal jika kesehatannya terganggu. Hanya saja ketika seseorang mengalami kebangkitan imihaku, tubuh mereka membuat jembatan antara mana di dalam dengan mana di luar, antara alam kecil di dalam dengan alam besar di luar. Di sini juga lahir kesempatan untuk memperbaiki tubuh manusia, menjaga kesehatannya dan memberikan usia yang panjang.”

“Tapi bukankah pada akhirnya semua orang memiliki batas usia yang tidak lebih panjang dari beberapa ratus tahun?”Read more

Eiwa 17 – Angelomagi Ruang dan Waktu

Dahulu kala, menghitung beberapa milenia ke belakang, mungkin sekitar tujuh ribu hingga lima ribu tahun yang lalu – seluruh daratan mengalami masa kekacauan. Era kekacauan ini dimulai sejak runtuhnya sebuah dinasti yang menyatukan seluruh bumi sekitar tujuh ribu tahun yang lalu secara misterius, atau lebih tepatnya disebut hilang begitu saja.

Tidak ada catatan mengenai peradaban tertinggi manusia sebelum era kekacauan tersisa. Dan apa yang tersisa dari peradaban yang hilang tersebut menjadi rebutan dari pelbagai pihak yang menjadi bahan bakar dari era kekacauan yang berkepanjangan.

Sekitar lima ratus tahun sebelum akhir dari era kekacauan, muncul seorang tokoh yang sangat misterius. Tokoh yang sangat disegani dan ditakuti, namun juga dihormati.

Dia adalah genius di antara para genius di akhir era kekacauan. Dikatakan usia tujuh tahun dia mencapai kebangkitan imihaku. Dan apa yang bisa dilakukannya dengan sihir, sampai saat ini belum ada yang bisa menirunya sampai tahapannya yang dia capai – yaitu sihir ruang dan waktu.Read more

Eiwa 16 – Perpustakaan Putih

Enam puluh hari berlalu di Wasswa. Rutinitas yang kulalui menjadi begitu teratur. Berlatih dengan diagram sihir beban langit dari pagi hingga sore. Meditasi melalui teknik Gelombang Sembilan Kesadaran pada malam hari. Ditambah dengan melatih teknik pedang dan bertarung di antaranya.

Dengan tambahan tampaknya kucing putih ini sekarang sering bersamaku, terutama pada saat-saat ikan asap disajikan. Bagusnya, dia mulai membawa ikan tangkapannya sendiri.

Kadang aku masih penasaran, siapa pemilik kucing ini, karena hewan cerdas ini tampaknya bukan hewan biasa dan pemiliknya pasti bukan sosok yang biasa juga. Apalagi kunci kuno yang tergantung di lehernya semakin membuat rasa penasaran menjadi-jadi.Read more

Eiwa 15 – Kucing dan Kunci

Tanpa terasa, sudah empat puluh hari berlalu di Wasswa. Berarti hanya dalam lima hari lagi, separuh dari waktu yang kumiliki sudah digunakan. Dan terus terang, sampai saat ini, semua masih berjalan sebagaimana yang kuharapkan.

Tubuhku sedang melesat ringan di antara kerimbunan Wasswa, dan beberapa belas meter di belakangku terdengar lengkingan tinggi dan suara gemeresak, yang dengan cepat mendekat.

“Ah…, kupikir akan bertemu panda yang imut, tapi mengapa mereka yang muncul?”

Aku bergumam kesal. Sekelompok kalajengking abu yang masing-masing berukuran sepanjang delapan meter sepertinya mengira aku mangsa yang lesat, atau mungkin mereka kesal ketika upayaku memetik sejumlah beri menggagalkan perburuan mereka pagi ini.Read more

Eiwa 14 – Gelombang Sembilan Kesadaran

Setelah menyelesaikan santap malam dan menyegarkan badan dengan mandi singkat. Aku melompat keluar dari tenda dan duduk di puncak kanopi yang kini dihiasi oleh lautan bintang dan benda-benda angkasa dengan cahaya yang berkelap-kelip. Kehidupan bisa saja memaksa seseorang untuk menghadapi situasi yang genting, namun jika keindahan seperti ini terlewatkan begitu saja, maka betapa sia-sia waktu yang dilewati.

Dengan duduk bersila, aku mengakhiri pengamatanku akan lautan permata di langit malam, dan kesadaranku membawaku ke dalam relung batinku.

Gelombang Sembilan Kesadaranku sampai pada tahap keenam, dan saat ini aku bisa membagi gerak batinku ke dalam enam kesadaran yang terpisah. Ini memberikanku kemampuan memikirkan enam masalah secara terpisah.Read more

Eiwa 13 – Diagram Sihir Beban Langit

Target yang harus dicapai dalam pekan ini adalah menjadi seorang kesatria pemula dan magi pewaris, sesuatu yang umumnya diimpikan untuk dicapai dalam jangka waktu beberapa tahun. Sayangnya, aku tidak memiliki banyak waktu untuk itu, atau tepatnya – tidak memiliki waktu sama sekali.

Aku melompat di puncak-puncak kanopi, menyusuri hutan bambu ungu dan tiba di pinggiran danau sembilan warna.

Terdiam sejenak di tepian danau menerima terpaan angin dingin yang lembut, aku bisa merasakan diriku berada dalam dekapan semesta. Pelbagai bunga teratai mancawarna menghiasi pinggiran danau sembari menari-nari bersama angin. Mekarnya ribuan teratai ini seketika memberikan warna-warni yang indah dipandang mata. Mungkin inilah sebabnya, danau ini dikenal sebagai danau sembilan warna.

Aku menatap sekelilingku, hanya menemukan rasa ketenangan yang tidak terbatas.Read more

Eiwa 12 – Tanpa Undangan, Neraka Tiba

Mereka yang melewati kebangkitan imihaku pada usia awal remaja umumnya diuji untuk kepekaan terhadap elemen-elemen alam semesta yang paling mereka peka. Elemen mana yang paling beresonansi dengan gerbang ethereal mereka, sehingga bisa memanfaatkan aliran mana untuk mengendalikan elemen tersebut.

Misalnya, mereka yang peka terhadap elemen api – salah satu elemen paling favorit – akan lebih mengambil jalan hidup mereka sebagai penyihir elemen api. Mulai dari menciptakan percikan api kecil hingga melontarkan api dalam jumlah besar yang cukup membumihanguskan sebuah kota adalah sesuatu yang akan ada dalam imajinasi mereka.

Sejumlah teks menyebutkan, alasan resonansi elemental pada sistem ethereal seseorang masih merupakan misteri terbesar. Bahkan mereka yang mencapai tahapan legendaris seperti seorang santomagi tidak bisa memahami ini.

Tapi bagaimana dengan si super genius ini?Read more

Eiwa 11 – Kemah Candradimuka

Berbekal sebuah pamflet mengenai acara kemah yang diadakan salah satu komunitas di kotaraja, aku berhasil meyakinkan keluargaku untuk ikut kemah bagi anak-anak yang ingin tahu mengenai alam sekitarnya, dan berinspirasi menjadi seorang penyihir di masa mendatang. Memang tidak aneh, karena seorang penyihir yang dalam catatannya harus bisa merasakan mana yang ada di alam, mau tidak mau, mereka harus sering dekat dengan alam.

“Baiklah, tapi jaga diri baik-baik Eiwa. Jika ada apa-apa, gunakan gulungan yang diberikan nenekmu untuk memberi tanda bahaya.”

“Baik Bunda.”

Untungnya mereka tidak banyak bertanya, karena aku sendiri tidak akan bisa menjawab pertanyaan mereka.Read more

1 2 3 4