Eiwa 10 – Dalam Genggaman

Dalam kitab strategi perang, salah satu hal yang penting adalah kemampuan menyusup ke daerah lawan dan menemukan informasi dan peta kekuatan serta strategi perang lawan. Tapi saat ini aku berharap tidak perlu pergi ke tempat lawan, jika bisa menemukan informasi yang dihantarkan musuh ke tempat kita sendiri, untuk apa pergi jauh-jauh.

Aku bisa melihat setiap gerak gerik di meja mereka dengan jelas, termasuk membaca gerak bibir mereka, sehingga tidak ada isi pembicaraan yang tidak tertangkap olehku. Hanya saja, kemampuan ini memiliki dua kelemahan yang mendasar, pertama aku harus memandang terus menerus, dan ini lambat laun walau tidak menimbulkan kecurigaan, akan menimbulkan tanda tanya jika ada yang menyadari. Kedua, aku tidak bisa melihat gerak bibir dari mereka yang membelakangiku.

Sepertinya hanya itu pilihanku…Read more

Eiwa 9 – Menyiapkan Perangkap

Malam harinya aku minta izin pada bunda, kakek dan nenek untuk bisa berjalan-jalan mengitari kota raja. Aku yakinkan mereka bahwa aku akan baik-baik saja dan tidak akan menuju tempat yang aneh-aneh.

Awalnya mereka tidak setuju, namun siapa yang bisa menolak mata bulatku yang manis yang memelas ini?

Akhirnya kakek memberikan tanda pengenal akademi utama, sementara nenek memberikan tanda pengenal militer tingkat atas padaku. Jika aku menemukan masalah di jalan, kedua tanda pengenal ini akan bisa membantuku.

Mataku membelalak besar, memiliki dua tanda pengenal ini bagaikan orang penting yang bisa menjelajahi kotaraja tanpa halangan.Read more

Eiwa 8 – Sesuatu dari Masa Lalu

Siapa yang datang ke area terlarang yang paling terpencil di siang bolong seperti ini. Aku tak habis pikir, dan mereka tampak terburu-buru. Jantungku mulai berdebar kencang, aku tidak ingin ditemukan menyusup ke dalam area rahasia, karena orang-orang akan mulai curiga.

Aku tidak berani membuat gerakan, dengan menggunakan teknik “Bayangan Dunia di Balik Langit” – salah satu teknik rahasia dengan nama keren yang kutemukan ketika aku bersih saat pertama kali masuk ke dalam area rahasia – aku menutupi keberadaanku dari pengindraan kebanyakan makhluk hidup, tentunya termasuk manusia. Jika orang tak benar-benar mencariku, maka akan sulit bagi mereka untuk menemukanku.

Suara sepasang langkah kaki tersebut semakin jelas, dan percakapan mereka juga mulai terdengar. Nada mereka cukup serius dan pelan.Read more

Eiwa 7 – Balita

Tidak terasa, saat ini usiaku sudah mencapai lima tahun. Tidak seperti pada pencapaian usia-ku setahun, maka selama empat tahun berikutnya tidak ada pesta ulang tahun yang meriah dengan tamu undangan. Tapi cukup aku, bunda, kakek dan nenek saja. Bagiku, suasana seperti ini cukup menyenangkan.

Lima tahun ini aku menemani bunda bekerja di perpustakaan akademi. Setahun menghabiskan waktu di rumah merawatku tidak menyulitkan bunda kembali ke pekerjaan asalnya.

Harus kuakui, perpustakaan adalah tempat yang menyenangkan, di mana aku bisa menjadi raja. Di perpustakaan tidak boleh ada yang berisik atau bersuara keras, tapi siapa yang berani memprotesku jika aku berteriak atau menangis? Yang ada adalah beberapa pelajar perempuan akan mendatangiku dan menghiburkan dengan sejumlah manisan. Tapi tentu saja ini tidak sering kulakukan, karena akan membosankan, dan efeknya akan menurun.Read more

Eiwa 6 – Sang Bayi yang Terbang

Malam itu aku sendiri di kamar pribadiku – hadiah ulang tahun – yang ada di lantai dua. Tampaknya tidak ada yang bertanya lebih jauh setelah pesta ulang tahun selesai. Yah…, jenius memang hanya bisa membuat orang terbelalak tanpa bisa berpikir banyak.

Hanya saja di lantai satu aku masih bisa mendengar sayup-sayup pembicaraan antara bunda, kakek dan nenek.

“Corinne, apa kamu yakin tidak pernah mengajarkan Eiwa membaca teks kuno?”

“Memang kamu pikir mengajari membaca teks kuno semudah membuat segelas susu untuk Eiwa? Bahkan aku pun menghabiskan setahun penuh untuk bisa menghafal aksara kuno itu satu per satu. Baru kemudian bisa membaca dalam lima tahun berikutnya setelah menghabiskan waktu siang dan malam.”

“Benar kata Ibu, bahkan sampai saat ini, walau pun aku sendiri belajar langsung dari Ibu – aku belum bisa membaca lancar seperti yang Eiwa lakukan tadi, apalagi itu bukan sekadar teks kuno kurasa.”

“Hmm…”

“Albert, apa yang dilakukan Eiwa hanya bisa dicapai dengan latihan dan belajar selama bertahun-tahun.”

“Ini benar-benar tidak masuk akal. Apakah ini berarti Eiwa memiliki bakat bawaan dalam membaca teks kuno?”Read more

Eiwa 5 – Hadiah

Suasana ruangan menjadi begitu senyap, seperti pemakaman di malam hari. Bahkan kuburan pun masih diramaikan oleh suara jangkrik atau burung hantu. Di ruangan ini justru suasana terasa lebih mencekam, bahkan dentingan sendok kue yang jatuh dari tangan gemetar salah satu tamu pun jadi terdengar dengan jelas.

Oi… oi…, apakah kita memang sedang melihat hantu?

“Ehem…, tolong kalian jangan melihatku demikian. Aku orangnya pemalu.”

Tidak Kek, Anda bukan pemalu, tapi sebuah bom. Tiba-tiba muncul dan membuat suasana menjadi senyap.

“Senior Aristides, silakan… silakan…, maafkan kami terlambat menyambut.”

Wow…, bahkan kakek pun sangat ramah pada orang ini.

“Salam kakek.” , “Selamat datang ayah mertua.” Kini giliran Loke dan Eileen, serta laki-laki yang bernama Archelaos itu yang menyambut tamu terakhir ini. Dan orang tua itu hanya mengangguk-angguk saja.

Berarti kakek ini adalah kakek dari Loke dan Eileen dari garis ibu mereka.Read more

Eiwa 4 – Tamu dan Undangan

Tiga kali suara ketukan terdengar di pintu. Kakek bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Sepertinya tamu telah mulai datang. Aku tidak yakin berapa banyak yang diundang ke acara pesta ini.

“Oh… Archelaos. Senang kamu bisa datang, ayo masuklah. Kalian juga anak-anak.”

Tak lama kemudian, aku melihat kakek mengantar tiga orang ke ruang tengah. Satu laki-laki dewasa berambut dan bermata cokelat, berbadan tegap dengan warna kulit putih cerah. Entah kenapa, aku merasakan ada aura yang kental – keemasan terpancar dari laki-laki ini tersembunyi dari wajah kalemnya.

Ah, jangan bilang dia ke sini mau mendekati Bunda!Read more

Eiwa 3 – Ulang Tahun Pertama

Hari ini adalah hari ulang tahun-ku yang pertama, sementara aku menikmati adonan hangat dari kakao dan avokado yang sangat bermanfaat dalam menambah kesempurnaan bulatnya pipi mungilku, Bunda tampak sibuk membersihkan rumah dan memasak sejumlah hidangan.

Beberapa koleganya dari perpustakaan akademi juga ikut datang membantu. Dan mereka semua perempuan-perempuan muda yang manis, semanis adonan hangat kakao dan avokado ini.

“Senior Floretta, lihatlah si kecil Eiwa, aku belum pernah melihat bayi usia setahun bisa makan dengan serapi ini – tidak ada adonan yang berceceran di lantai ataupun berlepotan di wajahnya.”

Salah satu dari kolega junior Bunda datang menghampiriku dan mencubit pipiku dengan gemas. Lihat kan, ini adalah daya tarik dari kesempurnaan pipRead more

Eiwa 2 – Sang Genius Telah Lahir

Hei, di sini Eiwa! Ya, benar, sang genius yang telah lahir ke dunia.

Sudah ada yang mendengar puisi yang kugubah begitu aku lahir ke dunia? Jika belum, berarti dia sudah melewatkan satu bab dari kisah ini, silakan lihat bab sebelumnya.

Katanya, orang yang meninggal akan memasuki seperti lorong cahaya ke dunia yang lain.

Aku berpikir sebelumnya, bahwa aku mungkin meninggal. Karena saat itu aku merasa melewati sebuah terowongan yang sempit.

Apakah aku akan masuk ke neraka – pikirku ketika itu, karena terowongan tersebut begitu gelap.Read more

Eiwa 1 – Puisi Sang Bayi

Eiwa, itulah nama yang diberikan padaku. Siapa yang memiliki ide pertama kali memberikan nama itu? Aku tak tak tahu – tapi orang itu pasti ada masalah dengan otaknya. Mengapa? Karena Eiwa bermakna ‘awal dari seberkas cahaya harapan’ menurut jawaban yang diberikan kepada orang-orang yang menanyakan namaku, tapi kenyataannya – itu tak pernah ada di dalam kamus, bahkan tidak ada kata ‘eiwa’ sama sekali. Tampaknya yang mengusulkan namaku adalah seorang arkeolog yang bermimpi menemukan batu rosetta dari sebuah bahasa peradaban purba.

Sebelum kita beranjak lebih jauh, aku harus katakan aku adalah laki-laki, tulen tentunya. Ini harus ditekankan, karena beberapa yang mendengar kata ‘Eiwa’ langsung berpikir aku adalah perempuan.

Aku mungkin tidak bisa dikatakan pria dewasa, aku akui itu.Read more

1 2 3 4