Ema 30 – Permohonan Sang Penyintas

Jika memandang ke arah langit yang bergelora dengan hempasan badai dan tarian topan. Maka orang akan berpikir bahwa dia sedang berada di dunia yang sepenuhnya berbeda.  Ombak-ombak tinggi ratusan hingga ribuan elo mengancam untuk mencabik apa pun yang berada dalam terjangan mereka. Manusia yang menemukan diri mereka ada begitu dekat dengan semua ini akan kehilangan keberaniannya.

Dan belum lagi ditambah sepasang mata yang memandang buas ke arah mereka.

Kepanikan melanda awak Sang Mutiara Angin, Christine meminta Vasu untuk memutar balik kemudi karena situasi yang tak terduga ini benar-benar mencengkeram urat nyali mereka. Energi semesta yang misterius seperti menekan ke dalam jiwa mereka.Read more

Ema 29 – Warisan Sakra Manavendra

Vasu memandang ke arah dinding kabut ungu raksasa, dia menutup matanya berusaha memandang menembus ke balik dinding misterius itu. Namun yang bisa dirasakannya hanya kekosongan yang tak bertepi. Siapa pun atau apa pun yang mampu menghasilkan fenomena seperti ini, pastilah lebih misterius daripada fenomena ini sendiri.

“Semuanya bersiap!”

Suara membahana kapten Sang Mutiara Angin mengingatkan kembali para awak dalam nada yang tegas. Mereka semua tahu, bahwa memasuki hutan kabut ungu bisa bermakna tidak akan dapat kembali lagi. Namun tahu saja tidak cukup, antara mengetahui melalui apa yang dibaca dan didengar dengan mengalami sendiri tentunya adalah dua hal yang berbeda.

Semua orang bisa menyembunyikan rasa waswas di balik wajah yang tenang, namun jantung mereka sendiri sudah mulai berdegap kencang.Read more

Ema 28 – Eskpedisi Empat Panji

Istana Langit Selatan – Di dalam sebuah balairung agung, Raja Langit Selatan – Soini VIII, Yang Mulia Patroclus Soini, raja langit generasi ke delapan di Langit Selatan pandangannya menatap tajam ke arah salah satu sudut jagat kahyangan.

Mengenakan gelungan mahkota keemasan, dialah penguasa atas wilayah Langit Selatan – bersama tiga raja langit yang lain menjadi pilar bagi kekaisaran langit. Soini VIII adalah seorang dewa langit agung yang telah bertakhta selama kurang lebih seratus juta tahun.

Tentu saja Soini bukanlah wangsa yang pertama kali menjadi pilar langit Selatan. Siapa pun yang memiliki kekuatan dan dapat merebut takhta raja langit, dia ‘berhak’ menjadi raja langit – selama dia tidak menentang kehendak dan titah kaisar langit. Sedemikian hingga pergantian wangsa bukanlah sesuatu yang aneh, kadang sebuah wangsa dapat bertahan hingga ratusan bahkan ribuan generasi. Wangsa Soini baru pada generasi kedelapan, dan masih termasuk muda dalam catatan hikayat kahyangan.

Dewa langit agung adalah salah satu pencapaian yang tak semua dewa bisa mengharapkannya.Read more

Ema 27 – Langit di Atas Langit

Sungguh megah tampak gerbang yang muncul di langit Bikendi. Keagungan terpancar dari guratan dan ukiran yang menghiasinya. Hanya dengan melihatnya, seseorang akan merasa begitu kecil, seakan-akan tempat di baliknya tidak layak dipijak oleh manusia yang fana. Dan kabut putih di sekitar gerbang agung tersebut menambah kesan mistik yang diberikan.

“Gerbang Seribu Kahyangan, ini tidak akan berakhir baik.” Fionnuala menarik Vasu dan meletakkan anak itu di belakangnya, seakan-akan melindunginya.

“Eh…” Vasu terkaget, “Jadi ini adalah salah satu gerbang langit yang digunakan kahyangan untuk memindahkan sejumlah besar dewata?” Tentu saja Vasu pernah membaca tentang beberapa jenis gerbang langit. Tidak seperti portal teleportasi, gerbang kahyangan merupakan wujud nyata dari pintu ke mana saja yang bisa membuat penggunanya memindahkan populasi suatu ras dalam jumlah besar.Read more

Ema 26 – Tarian Pedang Empat Musim

Gelombang energi menyapu seluruh Ema, suar paradoks ruang-waktu menembus bumi dan langit. Di salah satu taman kekaisaran Bren, sang kaisar sedang memandangi papan caturnya, sementara kepala Akademi Ksatria dan Sihir Agung Bren baru saja menyelesaikan giliran langkahnya dengan menyeruput secangkir teh ginseng.

Tiba-tiba seluruh tubuh mereka merinding, angin yang cukup kencang menerpa seluruh wilayah Bren, beberapa tenda roboh dan debu beterbangan. Meskipun wilayah ibu kota dilindungi oleh tabir energi, dan angin tak dapat masuk, namun suar paradoks ruang-waktu tetap tak terbendung.

Lalu sesaat setelahnya, sang kaisar dan kepala akademi sama-sama menoleh ke arah yang sama.

“Betapa dahsyat aura ini, apakah maharathi? Bukan! Atimaharathi? Bukan juga. Ini… mahamaharathi…”

Bidak catur yang dipindahkan kaisar nyaris terjatuh dari tangannya yang gemetar.Read more

Ema 25 – Raga Vajra Emas

Dia lahir sekitar sepuluh juta tahun yang lalu, dan kemudian sembilan juta tahun yang lalu dianugerahi gelar paling berbakat di antara para dewata belia. Delapan juta tahun yang lalu dia telah ikut berperang di baris terdepan setiap kali kahyangan mendapatkan ancaman. Tujuh juta tahun yang lalu dia adalah satu yang terkuat di antara para dewata, mendapatkan gelar panglima surgawi. Selama dua juta tahun dia merasa berada di atas angin. Dua juta tahun kemudian dia merasakan kebosanan, berada di puncak adalah sesuatu yang bisa membuat orang merasakan kesepian.

Tiga juta tahun yang lalu, kahyangan mendapatkan ancaman – terbesar dalam sejarahnya. Sehingga seluruh perhatian, upaya dan energi dicurahkan untuk mengatasi ancaman ini. Dunia fana nyaris kehilangan pengendalinya. Beberapa dunia mengalami peningkatan anarki yang luar biasa, Eon mengalami ekspansi luar biasa salah satu ras terkuat di alam semesta – para naga.

Fionnuala merasakan tekanan yang amat hebat, dia yang terbiasa berada di puncak, kini hampir tidak bisa menemukan jalan keluar. Bersama dewata lain yang tak kalah hebat, mereka nyaris ditekan perang yang berkepanjangan. Selama satu juta tahun, entah berapa ratus hingga ribu dewata gugur setiap harinya. Bahkan jika kahyangan didukung oleh maha-padma dewata, jika siklus perang ini terus berlangsung, niscaya pilar-pilar kahyangan akan runtuh satu persatu.Read more

Ema 24 – Fionnuala

Dari balik langit-langit yang runtuh, di antara serpihan debu dan puing yang berjatuhan dalam semburat cahaya. Mahluk agung bergelimang kemuliaan tersebut datang bak mentari turun dari langit. Kehadirannya membawa campuran rasa takjub sekaligus takut pada orang-orang yang melihatnya.

Namun sekali lagi, pandangan dan raut wajah Vasu tetap tenang, seperti permukaan danau musim gugur yang tak takut terusik oleh datangnya musim dingin.

“Jadi seperti inikah jika seorang dewa turun ke jagat fana? Tidakkah ini seperti teatrikal yang berlebihan?”

Vasu bergumam pelan, namun tentu saja orang yang di sekitarnya bisa mendengar, lagi pula mereka bukan orang-orang biasa.

Sosok dewata turun ke dunia? Apa ini nyata? Apa yang terjadi sebenarnya? – Pun mereka bukan orang-orang biasa, namun bertemu dengan keberadaan yang hanya ada dalam mitologi, mereka tidak bisa lagi mempertimbangkan apakah yang hadir di hadapan mereka benar-benar dewata atau hanya artis peniru.Read more

Ema 23 – Lokasi

Pria muda yang ada di hadapan Vasu dan Christine tersenyum pahit, “Apa…? Kalian tidak senang melihatku? Wajah kalian seperti baru melihat setan saja.” – Pria itu mendengus, wajahnya kesal, namun kelusuhan lebih mewarnai guratan ekspresi serta aura lelah dan putus asa yang menyelimutinya. Dia bagaikan orang yang baru naik turun tujuh pegunungan dan berenang menyeberangi tujuh lautan.

Tentu saja pemuda itu tampak demikian, dia tidak lain adalah Sith Lobane. Tuan Muda dari Lobane. Kakak kandung Flora dan penerus ‘takhta’ Lobane.

“Tidak, bukan begitu, kami hanya tidak berpikir Kak Lobane sudah sampai di sini.” Christine segera berusaha memperbaiki situasi.

“Hah.., sudahlah.” Sith melambaikan tangannya. “Kalian ikutlah denganku.”

Vasu dan Christine langsung mengikuti Sith dari belakang. Mereka membelah lautan manusia yang bergumul dengan kesibukan mereka masing-masing. Di kiri dan kanan akan terdengar suara orang dalam pelbagai dialek saling tawar menawar barang dan jasa. Pun demikian, ini tidak menghalangi ketiga orang tersebut melakukan percakapan singkat.Read more

Ema 22 – Alasan

Setiap orang yang mendengar nama Hutan Kabut Ungu, hatinya akan gemetar ketakutan – kecuali mereka benar-benar tidak pernah mendengar nama tempat tersebut. Hutan Kabut Ungu merupakan legenda yang tabu untuk dibicarakan, setiap kali namanya disebut – suara yang menyebut Hutan Kabut Ungu selalu redup seakan tidak ingin angin membawa pergi kata-katanya. Tidak ada yang ingin mendapatkan kutukan dari tempat tersebut, takut bahwa ‘penghuni’ Hutan Kabut Ungu mendengar percakapannya.

Orang-orang mulai berbisik-bisik mengenai kabar ini.

Selain menyeramkan, kisah dan mitos seputar Hutan Kabut Ungu juga melahirkan legenda. Dalam catatan sejarah Tanah Ema, sejumlah tokoh legendaris pernah menjadikan Hutan Kabut Ungu sebagai Kawah Candradimuka mereka. Beberapa kaisar dari Kekaisaran Bren pernah menjadikan ‘kunjungan’ ke dalam Hutan Kabut Ungu sebagai pembuktian kelayakan mereka untuk naik takhta. Dan ketika mereka kembali dari situ, mereka berubah sepenuhnya, aura mereka konon bak dewata yang menitis ke alam manusia.Read more

Ema 21 – Pesan Darurat

Satu bulan itu berlalu dengan cepat, kondisi Desa Buido sudah lama pulih seperti sedia kala. Semua tampak seperti biasa, terkecuali sejumlah anak yang berlatih bela diri pada pagi hari, dan pada siang hari belajar berburu di hutan terdekat. Dengan bimbingan dan perlindungan dari dua murid madya Puncak Benderang, nyaris tidak ada yang mereka perlu khawatirkan.

Cadangan makanan seperti daging dan buah kini bisa dikatakan aman, karena anak dan para remaja yang belajar berburu setidaknya kembali membawa hasil buruan setiap malam beserta dengan sejumlah besar buah serta sayur liar. Mereka akan membawa pulang satu keranjang gendong penuh pelbagai bahan makanan – dan kemudian dibagikan ke semua rumah di desa. Kelebihannya diatur untuk ditukar dengan kebutuhan lain ke desa atau kota terdekat, seperti sandang, logam, dan garam.

Walau sandang bisa dikatakan berkecukupan di Buido, namun sering dalam kondisi yang kurang layak – terutama bagi rumah yang miskin, yang tidak memiliki pria dewasa untuk berkontribusi pada desa dan kerja. Namun dengan didatangkan sandang dari luar, semua warga desa kini bisa berpakaian dengan lebih layak.Read more

1 2 3