Ema 20 – Penguasa Ruang dan Waktu

Gerakan pedang seakan menari dengan tenang dan anggun, pelan menghanyutkan. Meskipun pelan, namun dalam sepuluh embusan napas, lebih dari seratus gerakan sudah muncul dari tangan mungkin Vasu – seolah-olah melukis pada kanvas udara bebas. Kadang gerakan ini memberikan gerakan angin yang hangat, gelombang yang panas, getaran yang sejuk, atau aura dingin membekukan dengan tak putus-putus.

Dalam bagai samudra, tinggi bagai langit. Sederhana seperti sebuah siulan, sekaligus rumit seperti orkestra megah. Meriah seperti langit malam dengan sungai-sungai bintangnya, tenang seperti langit biru membentang tanpa awan.

Ketika orang berpikir pedang itu akan bergerak, ternyata justru diam. Ketika orang berpikir pedang itu berhenti, justru bergerak tak putus-putus.

Antara Te’oma dan Gaetana yang sudah mempelajari pedang selama ratusan tahun, mereka bisa mengaku bahwa di antara seribu pendekar pedang terbaik – walau bukan terkuat – mereka bisa bersaing dengan lima puluh peringkat teratas. Namun di hadapan permainan pedang Vasu, mereka dipaksa tunduk seperti melihat matahari yang menyilaukan.Read more

Ema 19 – Kitab Pedang Empat Musim

Jika seseorang ingin menyimpan rahasia, maka sebaiknya rahasia benar-benar terpendam atau tersembunyi – namun tidak di tempat yang kentara, tapi di tempat yang paling alami dan paling tidak terduga. Rahasia yang paling sulit dilacak adalah yang berasimilasi dalam kenormalan, bukan yang diletakkan dalam kotak rahasia dengan kunci rahasianya.

Keberadaan elemental jiwa bisa mengundang rasa iri, dan lebih buruk lagi – mengundang ketamakan kelompok-kelompok tertentu. Elemental jiwa seperti sebuah harta pusaka bagi banyak ahli dan perguruan, mereka bisa tergiur untuk membuka rahasia di balik keberadaannya.

Walau kebanyakan perguruan bela diri, akademi militer, sekolah sihir di Tanah Ema mengakui dasar-dasar kemanusiaan yang mulia, namun tindak tanduk mereka tidak selalu demikian. Di mana ada sisi terang, maka di situ akan selalu ada sisi gelap, ini adalah kenyataan dunia yang tidak dapat dipungkiri. Ketika seseorang tidak bisa melihat sisi gelap dari sisi yang benderang, maka bukan berarti kegelapan itu tidaklah ada.Read more

Ema 18 – Ruh Buido

Meski pun malam sudah semakin larut, banyak warga yang masih berkumpul di beberapa lokasi di Desa Buido. Perbaikan bagian desa yang rusak memasuki tahap akhir untuk polesan, agar bangunan-bangunan tersebut bisa tampak seperti sedia kala.

Awan putih berarak pelan, dan terkadang menyembunyikan rembulan perak yang tergantung di langit. Angin mendesir dingin, menyapu rerumputan dan membawa aroma malam ke seluruh penjuru mata angin.

Tidak jauh embarau Desa Buido, Vasu memerhatikan Renatta kecil yang sedang memeragakan sejumlah teknik yang dia ajarkan siang tadi.

Gaeiado pada awalnya hanya memiliki gerakan pembuka, dan nyaris setelah itu tidak ada hal lain lagi yang khusus ditanamkan. Ini adalah salah satu kelemahan Gaeiado, seperti membuka pintu penjara bawah tanah pertama kali bagi seseorang yang tak pernah melihat dunia – Gaeiado memberikan bentangan dunia baru yang tak terbatas, dan orang bisa mengambil jalan mana pun. Hanya saja jika ada yang tidak siap dengan dunia baru ini, dia mungkin akan kembali ke dalam penjara yang gelap karena ketakutan akan sesuatu yang baru. Hanya yang siap bisa melangkahkan kaki mereka ke dunia yang baru ini.Read more

Ema 17 – Tapakan nan Rapuh

Keheranan masih menyelimuti wajah-wajah yang tertinggal di Desa Buido. Mereka memandang ke arah perginya bahtera langit yang sudah cukup lama lenyap di batas cakrawala. Bagi mereka yang mengenal siapa Nandha, keheranan muncul karena bukan sifat penerus perguruan Gatto Celeste untuk mundur terbirit-birit seperti itu. Bagi yang tidak mengenal siapa Nandha, mereka keheranan bahwa ada sosok hebat sudah lari dari desa mereka dalam kondisi yang menyedihkan.

Setelah tersadar dari keheranannya, Christine berjalan santai menuju arah Vasu dan yang lain. Meski pun dikatakan santai, satu langkah ringannya bisa menempuh jarak seratus langkah, sehingga dalam lima kali langkah – dia telah tiba di depan Vasu. “Tadi itu di luar dugaan. Aku tak menyangka dia ‘lari’ secepat itu. Padahal masih ada beberapa jurus dan teknik yang ingin kucoba.”

Vasu tertawa, “Hei hei…, dia itu bukan kelinci percobaan.” Siapa yang mau menjadi lawan duel Naga Biru Langit dari Samudra Timur hanya untuk dijadikan percobaan teknik bertarung, jika ada orang yang mau – dia pasti sengaja sedang menguji tingginya langit dan dalamnya lautan, atau dia orang yang buta.Read more

Ema 16 – Duel Naga dan Harimau

Tidak memakan waktu lama bagi area di bagian Timur dari Desa Buido menjadi pusaran amukan dari energi murni dan energi sihir – ada dua Prana yang seakan-akan beradu dengan dahsyat. Aroma debu yang terangkat, beserta dengan getah rerumputan bercampur di udara dan terhempas ke sana kemari. Dalam sekejap padang rumput tersebut berubah menjadi arena tempur yang menakjubkan.

Masyarakat Desa Buido yang melihat dari balik embarau tidak bisa menyembunyikan keheranan mereka. Seakan-akan melihat dua dewa-dewi turun ke dunia fana untuk saling menghunus dan menghunjamkan pedang. Berkali-kali sebagian besar dari mereka memekik takut ketika bongkahan batu, es, hingga sabetan pedang angin dan pelbagai energi kasat mata yang menerjang ke arah mereka. Beruntung dengan perisai Dirghakalam Suryagatravarana & Candragatravarana, tidak satu pun bakal petaka tersebut yang berhasil menyentuh Desa Buido.

Serangan Nandha bersifat keras, cepat dan akurat. Sedangkan Christine bersifat lentur, dinamis, dan gesit. Nandha bagaikan harimau yang murka mencoba menyerang Christine dengan segenap daya upayanya, sementara pada saat-saat kritis Christine dengan mudah menghindari serangan tersebut menggunakan jurus ‘Naga Meliuk di Awan’. Bahkan ketika engkau adalah raja rimba, jangan berharap bisa menangkap seekor naga yang terbang bebas di awan.Read more

Ema 15 – Putri Bergaun Putih

Jauh di Utara, membentang jalur Seribu Pegunungan Menghunjam Langit, puncak-puncak seperti ujung-ujung kapak yang tersembunyi di balik awan-awan yang tak pernah pudar. Sejauh mata memandang dari kejauhan adalah puncak-puncak seputih salju, dengan dataran tinggi berpasir nan gersang di lapis bawahnya, dan paling bawah adalah kawasan hutan yang luas hingga ke wilayah dataran.

Pegunungan ini membentang dari Timur ke Barat menjadi pembatas sepertiga wilayah dataran bagian Utara dan dua pertiga dataran di wilayah bagian Selatan dari Tanah Ema. Membagi Tanah Ema menjadi dua wilayah dataran, Selatan merupakan tempat peradaban manusia selama jutaan tahun terakhir. Sementara wilayah Utara adalah wilayah yang misterius.

Misterius dalam artian, karena tidak ada yang dapat mencapainya tercatat dalam sejarah peradaban wilayah Selatan. Seribu Pegunungan Menghunjam Langit adalah benteng alam yang tak tertembus oleh manusia selama jutaan tahun. Sedangkan wilayah pantai dataran utara bukanlah pilihan yang baik untuk berlabuh, sebagian merupakan jurang-jurang yang terjal dengan tanaman-tanaman beracun yang mematikan. Badai besar juga adalah pemandangan umum di wilayah Utara ketika para pelaut melihat dari kejauhan. Dengan kata singkat, berlabuh di wilayah utara adalah bunuh diri.Read more

Ema 14 – Strategi Sang Naga

Matahari belum terbit, dan angin terasa dingin menusuk tulang. Beberapa siluet orang tampak bergerak keluar gerbang bagian Timur. Sementara ratusan lainnya melihat dari balik embarau tanpa berani melangkah keluar dari Buido.

Semalam Vasu menyampaikan pada kepala dan para tetua desa, bahwa kemungkinan pagi ini akan terjadi hal yang tidak diinginkan, dan masyarakat desa sebaiknya tetap tinggal di dalam desa. Vasu telah menyusun formasi pelindung di sekitar desa Buido, Dirghakalam Suryagatravarana dan Dirghakalam Candragatravarana – sepanjang matahari dan rembulan bersinar, tidak ada makhluk dunia fana yang bisa menembus formasi pelindung ini. Vasu yakin, bahkan jika Joanna sendiri yang mencoba menerobos, maka penyihir heptagon tersebut akan menyerah pada akhirnya.

Ada dua alasan mengapa Vasu membuat formasi ini, pertama adalah melindungi warga desa dari ancaman kedatangan para ahli dari Gatto Celeste pagi ini. Dan untuk jangka panjang, memberikan perlindungan pada si kecil Renatta.Read more

Ema 13 – Kidung Napas Kehidupan

Malam turun larut di Desa Buido, namun suasana tidak mencerminkan malam-malam seperti biasanya. Obor-obor menyala di sepanjang jalan, rumah-rumah diterangi lampion dan lilin. Suara warga yang bekerja dengan peralatan pertukangan berdenting dan bertalu, dengan diiringi nyanyian serangga malam dengan sesekali diselingi suara kokok ayam yang mungkin salah menduga hari telah pagi.

Puluhan warga sibuk membenahi atap-atap bangunan di sisi Timur yang rusak sejak sehari sebelumnya. Kini mereka sudah bisa bernapas lega, karena suasana tegang yang menyelimuti Buido sudah berakhir ketika seorang anak yang asing muncul dan menunjukkan kemampuan layaknya adiinsan.

Sementara, jauh dari keramaian, di bagian Utara dari Buido, sebuah bangunan dua lantai tampak senyap di sekitarnya terkecuali dua orang berjaga mengenakan zirah ringan dengan tombak di tangan mereka.Read more

Ema 12 – Karma Dunia Dunia

“Vasu… siapa Vasu…?” Kelima murid dari Gatto Celeste tersebut membatin. Jika ada pendekar muda hebat – setidaknya dalam seratus atau seribu daftar pendekar muda windu ini – mereka pasti sudah pernah mendengar namanya meski tidak pernah berjumpa.

Namun nama Vasu terdengar asing di telinga mereka. Tentu saja warga desa yang hanya orang-orang biasa tidak paham sama sekali, siapa anak tersebut. Tapi dengan melihat apa yang baru saja terjadi, mereka bisa menerima kemungkinan bahwa anak yang bernama Vasu tersebut sama seperti para remaja dari Gatto Celeste.

“Pendekar Vasu, kami mohon maaf tidak mengenal pendekar muda sebelumnya.”

Kini Honos tidak berani gegabah. Serangannya mungkin sederhana, tapi bagi orang biasa sangat mematikan, dan bagi orang yang memiliki kemampuan beberapa dasa bala – setidaknya orang itu akan dibuat cedera sedang hingga berat. Namun Vasu tidak berakhir ke dalam dua kategori tersebut.Read more

Ema 11 – Desa Buido

Setelah percakapannya dengan Hiwi, Vasu membiarkan hewan sakral itu kembali ke langit. Kepakkan kedua sayap yang kokoh seakan membuat seluruh hutan bergetar, dan hewan-hewan bersembunyi semakin ke dalam di liang mereka masing-masing.

“Apa yang kalian bicarakan?” Christine masih memandang Wiverna Hitam tersebut menghilang di langit malam.

“Kurasa dia ingin mengikuti kita, jadi kubiarkan saja begitu.”

Nada Vasu seakan-akan tidak terlalu peduli. Dalam pandangannya, kehidupan memiliki jalan mereka masing-masing, dan dia adalah anak yang bisa selamat bertahan hidup dari masa-masa pelarian dan perang tanpa akhir di dunia asalnya. Apakah kamu mau mengikuti seseorang atau berjalan sendiri, Vasu sudah pernah mengalami semuanya.

Sementara Christine sendiri tidak terlalu memedulikannya, walau sebenarnya dia masih penasaran dengan teknik taut sukma yang digunakan oleh Vasu.Read more

1 2 3