Ema 10 – Hiwi

Malam pekat menyelimuti wilayah hutan yang lebat. Beberapa bayangan melesat cepat di bawah langit mendung yang gelap, meliuk di antara pepohonan yang menebar aroma hutan hujan. Dengan suara derap menderu, tanah basah terlempar ke udara, ranting serta perdu yang malang patah dengan suara yang lirih dan bersahut-sahutan.

“Ngiikkk…!”

Suara dari bayangan paling besar di depan, melaju seakan menolak untuk berhenti.

“Di depan akan ada rintangan bukit terjal, dia pasti akan menikung dan gunakan saat itu satu serangan lagi.”

“Ya!”Read more

Ema 9 – Menuju Dunia Membentang

Sejauh mata memandang adalah hamparan hutan pinus hampir seluas seribu kilometer persegi dan dikelilingi oleh hutan subtropis yang membentang hingga ke cakrawala. Di tengah hutan pinus, terdapat sebuah bukit yang hanya ditumbuhi oleh tumbuhan perdu, terkecuali di puncak bukit terdapat sebuah pohon pinus besar menjulang ke langit – seakan menyerukan bahwa ia adalah raja yang bernaung di bawah langit atas semua pepohonan di sekitarnya.

Di bawah sang raja pohon, terdapat batu pualam besar kecokelatan dengan permukaan datar. Dan di atasnya duduk bersila sosok anak kecil dengan mengenakan jubah abu-abu muda berlengan panjang. Matanya tertutup menghadap ufuk Timur yang mulai menggeliat warna jingga pertanda matahari segera terbit di batas cakrawala yang hijau.

Anak kecil ini adalah Vasu, gurat wajahnya tampak tenang – tidak tampak seperti anak kecil sama sekali. Kedua tangannya berada di atas lutut membentuk mudra Visnu. Napasnya teratur, dan ini adalah aktivitas rutinnya setiap pagi, menyelaraskan aliran Prana secara bergantian melalui nadi ida dan pingala, dan membersihkan sushuma. Meski pun Vasu tidak terlalu peduli, namun selama dia masih bernapas, maka selama itu sthula sarira-nya masih terikat dengan lingkaran karma, dan karena itu dia masih harus menjaga tubuhnya dengan sebaik mungkin.Read more

Ema 8 – Bintang Paling Cemerlang

Seluruh dunia tampak seperti alam yang terselimut aura putih kental tidak berbatas, tiada sisi atau pusat yang dapat dicerna oleh nalar. Semuanya membuat Vasu terdiam sejenak, dia hanya berdiri di ‘batas antara’ dari aura putih tersebut, di mana bagian bawah beriak seperti perairan yang sangat luas, dan bagian atasnya seperti angkasa yang tidak memiliki ujung.

Apa yang tengah terjadi? Vasu mencoba kembali mengingat-ingat. Baru saja dia berada di sebuah ruang bawah tanah tua bersama sang kakek, direktur balai perpustakaan kota, dan dua lainnya – ya, dua lainnya, Vasu tidak ingin memikirkan itu lebih detail lagi. Tapi kemudian setelah kakek Lutz membuka kotak yang ada di meja dan meletakkan sebuah medali di tangannya, semua terjadi dengan sangat cepat.

Mengapa cepat? Karena ketika medali tersebut jatuh menyentuh telapak tangan mungilnya, ada getaran misterius yang merayap dengan cepat hingga dalam alam batinnya dan berusaha menyeberangi jembatan masuk ke dalam relung sukmanya. Dan dia melihat semua di sekitarnya tampak berhenti, gerakan mata yang terhenti, gerak tubuh yang terhenti, seakan-akan waktu di sekitarnya terhenti. Bukan! Oleh karena dia merupakan ‘cakrawala elemental’, dia bisa melihat bukan waktu di sekitarnya yang berhenti, namun waktu psikologis di dalam dirinya berjalan dengan sangat cepat, persepsinya menjadi begitu cepat sehingga seakan-akan waktu di sekitarnya melambat dan bahkan terhenti.Read more

Ema 7 – Rukh Kalpavriksha

Malam ini adalah malam terakhir Festival Jalan Emas di seluruh Tanah Ema, dan Kota Yoria pun masih menunjukkan kemeriahan yang menggairahkan. Beberapa sudut jalan dihiasi oleh tarian asap yang berasal dari sisa pembakaran kembang api, dan tentu saja percikan dan letupan kembang api masih bisa ditemukan di mana-mana bersama gelak tawa baik anak-anak hingga orang dewasa.

Sisi jalan kota dipadati oleh pedagang pelbagai jenis makanan dan minuman beserta kudapannya. Aroma manis, rempah, gurih, semuanya berbaur bersama suka cita warga Kota Yoria, terutama mereka yang berpasang-pasangan dengan memilih menggelar alas duduk di bawa benderang Bunga Ema, tentu saja banyak keluarga juga melakukan hal yang sama.

Seorang kakek mengambil empat kembang gula dari salah satu penjual, dia dan penjual bercakap-cakap sejenak sebelum membayar, lalu segera kembali pada tiga anak kecil yang menunggu pada sebuah sampan yang dihiasi lampion warna-warni di tepian sungai Sika. Berdampingan dengan mereka perahu yang lebih besar kadang melintas bersama sampan-sampan kecil. Kadang terdengar suara merdu musik dari perahu yang melintas.Read more

Ema 6 – Cakrawala Elemental

Seorang gadis remaja duduk di sofa dalam sebuah ruang kerja yang dipenuhi dengan buku-buku yang bertumpuk-tumpuk membukit. Sejumlah gulungan papirus berserakan di lantai. Semburat cahaya rembulan warna-warni menerobos ruangan melalui mozaik transparan yang menjadi sebagian atap ruang kerja memberi bentuk oval dengan corakan geografi yang khas. Corakan itu bisa mengagetkan banyak orang, karena tidak pernah ada yang memiliki pengetahuan lengkap akan apa yang digambarkan di dalamnya.

Yang menjadi atap dari ruang kerja tersebut adalah peta raksasa Eon yang begitu detail dalam gaya klasik, berisi tulisan dalam bahasa purba yang barangkali telah lama punah. Dan di ujung “Selatan” pada corakan mozaik itu, sebuah bentangan kecil yang didampingi di sebelahnya oleh corak bentang yang lebih besar, jika Vasu atau Christine melihatnya mereka akan kaget karena yang diperlihatkan di sana adalah Tanah Ema, dan kemungkinan di sebelahnya adalah Benua Soma.Read more

Ema 5 – Nagi dari Samudera Timur

Tepi Danau Bulan Sabit – suara hum hum… yang riang terdengar seperti dendangan merdu di sekitar hulu Sungai Sika. Jika ada orang awam yang mendengar lantunan ini, maka mungkin ia akan berpikir bahwa gita bidadari surga baru saja turun ke bumi.

Tapi suara itu bukan tanpa pemilik. Wajah oval, dengan mata seperti permata biru yang berkilau di kedalaman samudra, menatap jauh ke arah apa yang dicarinya di tepi danau, sementara rambut yang bergelombang keemasan diikat dengan rapi sebagaimana gaya rambut kaum bangsawan.Read more

Ema 4 – Meninggalkan Puncak Benderang

Sehari setelah semua peristiwa di Balairung Agung, Puncak Benderang tampak sibuk. Pagi hari, matahari hanya baru beranjak sedikit dari cakrawala Timur, sinarnya berusaha merayap di antara awan dan embun untuk bisa meloncat ke dalam salah satu bangunan di ketinggian 3000 meter dari permukaan laut.

Meski pun udara dingin, perapian tidak menyala di ruangan tersebut. Pemilik ruangan sedang terduduk di atas ranjang yang berada di dekat jendela. Dia baru saja menghabiskan semangkuk sup panas.

“Jadi, mengapa kamu datang?”

Suara pemilik ruangan tampak kurang berkenan dengan tamu yang sedang duduk di kursi pada salah satu sisi ranjangnya. Di situ ada sosok remaja tampan dengan pakaian resmi yang sangat rapi, dia tersenyum, namun senyumannya seperti mengandung sejuta arti.Read more

Ema 3 – Legenda Pedang Pusaka Tanah Ema

Gunung Tienz, Lembah Para Naga.

Seorang pria tua duduk menghadap meja batu sambil menuangkan secangkir teh hangat. Wajahnya ringan tanpa beban, walau tidak bisa menyembunyikan kerutan yang dua tahun terakhir bertambah dalam.

Selama sejuta tahun dia telah menjaga makam para leluhur, dinasti para naga yang pernah berjaya tak tertandingi di bawah langit. Walau saat ini, ras manusia telah menjadi pengganti menjadi ‘penguasa’ di atas daratan dan samudra namun belum bisa menandingi masa kejayaan para naga yang juga menguasai langit.

Selagi dia menikmati kenangan masa lalunya, desahan kecewa anak laki-laki di hadapannya. Dia melahap kue manis dengan tergesa-gesa. Wajahnya menunjukkan ekspresi kesal.Read more

Ema 2 – Vasu

Milenium ke-600, Abad ke-54, Tahun ke-10, Bulan terakhir, Tanggal terakhir.

Keledai itu bersantai di pinggir pohon Banyan rindang, ia sudah dilepas dari gerobaknya. Saat ini sedang menikmati tegukan dari air telaga di dekatnya. Dia tampak sangat lega setelah menempuh perjalanan jauh.

“Sungguh keledai yang unik…”

Penjaga kedai menyerahkan segelas susu hangat pada anak yang duduk di hadapannya.

“Iya Paman, aku menemukannya sekitar setahun yang lalu. Diberikan oleh seorang yang baik hati.”

Pemilik kedai itu hanya tertawa. “Tuan muda Vasu, sudah lama Tuan Muda tidak muncul di kedaiku, mungkin sekitar lima atau enam tahun. Lihatlah, Tuan Muda tidak berubah sama sekali.”

“Ha ha…, Paman Pong, bagaimana aku bisa berubah dengan cepat. Guru saja sekarang memasuki usia yang kedua ribu, dan dia masih tampak muda. Apalagi aku yang baru sedikit di atas dua ratus tahun.”Read more

Ema 1 – Dandelion Beku

Tetes-tetes air dari stalaktit terdengar menggema bersama dengan langkah kaki pria paruh baya yang menyentuh lantai beku gua purba. Tembakan sinar lampu diode berkekuatan sedang yang berayun-ayun membuat sejumlah terang yang cukup di depan, namun tidak terlalu bermakna karena terhalang padatnya stalagmit dam stalaktit yang cukup membuat si pria merunduk dan berjingkrak berkali-kali untuk melewatinya dengan tergesa-gesa.

Sementara si pria yang menyerupai petualang Jones itu masuk semakin dalam ke pusat labirin alam, sepasang mata tidak bisa lepas mengawasinya. Tentu saja, sangat mustahil bagi si pria itu untuk mengetahui bahwa ada yang bisa mengawasinya, bahkan ketika sinar lampunya semakin redup ditelan kegelapan gua yang tidak ditembus oleh sinar alam.

Dan di pusat labirin tua, air menggenang membentuk kolam melingkar, dan di tengahnya sebuah stalagmit mencuat tinggi dan tampak bertemu dengan stalaktit penciptanya. Pria itu masuk ke dalam kolam yang pada sisi stalagmit kedalamannya mencapai setinggi lutut. Tentu saja tidak ada yang tahu apakah tempat itu memang pusat dari labirin tua, tapi sesuatu di dalam diri si pria berkata, ini adalah tempat yang paling mungkin ia cari-cari selama ini.Read more

1 2 3