Eiwa 3 – Ulang Tahun Pertama

Hari ini adalah hari ulang tahun-ku yang pertama, sementara aku menikmati adonan hangat dari kakao dan avokado yang sangat bermanfaat dalam menambah kesempurnaan bulatnya pipi mungilku, Bunda tampak sibuk membersihkan rumah dan memasak sejumlah hidangan.

Beberapa koleganya dari perpustakaan akademi juga ikut datang membantu. Dan mereka semua perempuan-perempuan muda yang manis, semanis adonan hangat kakao dan avokado ini.

“Senior Floretta, lihatlah si kecil Eiwa, aku belum pernah melihat bayi usia setahun bisa makan dengan serapi ini – tidak ada adonan yang berceceran di lantai ataupun berlepotan di wajahnya.”

Salah satu dari kolega junior Bunda datang menghampiriku dan mencubit pipiku dengan gemas. Lihat kan, ini adalah daya tarik dari kesempurnaan pipi yang bulat. Jika ada yang menginginkan penampilan ini, jangan lupa resep rahasiaku – adonan kakao dan avakoda.

Oh ya, Floretta adalah nama Bunda – sebelum aku lupa memperkenalkan.

Lengkapnya Floretta Yvonne, kurasa itu adalah nama gadisnya. Karena aku sendiri diberi nama mengikuti nama ayahku Aloys Cyril. Sehingga namaku adalah Eiwa Cyril – bukan, ini bukan nama perempuan!

Aku tidak ingin berbicara tentang ayah, karena aku sendiri hanya pernah melihat potretnya – dan setiap malam setelah meninabobokanku, bunda sering memandang potret tersebut dengan mata berkaca-kaca.

Aku tidak pernah tahu alasannya, tapi aku tahu – jawaban atas alasan kesedihan bunda, suatu saat aku pasti akan tahu.

 

Ketika senja, saat persiapan sudah nyaris selesai dalam menyambut – dua orang terdekat dalam hidupku selain bunda datang ke rumah. Kudengar dulu mereka tidak tinggal di rumah sebelum aku lahir. Kakek Albert dan Nenek Corinne.

Biar kuperkenalkan mereka.

Dalibor Albert Yvon adalah kakek dari garis bunda. Orang-orang memanggilnya Tuan Yvone – atau tepatnya Penyihir Agung Yvon. Dia tidak terlalu tua, usianya mungkin belum mencapai enam puluh tahun. Tapi janggut panjang putihnya memperlihatkan dia seakan berusia nyaris tujuh puluh tahun.

Kakek adalah kepala akademi di tempat bunda bekerja. Apa maknanya ini? Ini berarti kakek adalah orang genius berpengaruh dan berkuasa di kerajaan Glaedwine. Apalagi konon akademi memiliki kedudukan dia atas bangsawan pada umumnya dan hampir setara dengan keluarga kerajaan. Pun demikian kakek adalah orang tua yang ramah dan jenaka, dan dia tidak tampak terlalu pintar – aku tidak habis pikir bagaimana kakek bisa menjadi kepala akademi utama kerajaan.

Lalu nenek bernama lengkap, Flamecape Corinne Cyril, adalah nenek dari garis ayah. Dia berusia beberapa tahun lebih tua dibandingkan kakek Albert. Dia tampak lebih tegas, cerdas dan berwibawa dibandingkan kakek. Pun demikian, rambutnya masih sebagian besar berwarna hitam, walau pun kerut wajahnya tidak bisa menipu usianya.

Nenek adalah jenderal tertinggi angkatan perang Kerajaan Glaedwine. Ya, dia adalah jenderal wanita yang paling ditakuti dan disegani, baik oleh lawan maupun kawan.

Tapi nenek sudah tidak begitu aktif lagi, nenek sering mengunjungiku dibandingkan kakek. Mungkin di era damai, pekerjaan seorang jenderal tertinggi jauh lebih longgar dibandingkan seorang kepala akademi. Pun demikian karena posisi mereka yang satu selalu berurusan dengan penerapan praktis di lapangan, dan yang satu menjunjung tinggi metode legeartis, maka kudengar mereka sering berdebat di hadapan keluarga kerajaan.

Nenek juga memiliki kesamaan dengan bunda, selalu memandangi potret ayah dengan berkaca-kaca saat dia sendiri.

Kadang aku tidak tahan melihat nenek atau bunda dengan mata yang berkaca-kaca, aku akan berpura-pura menangis di dalam kotak tidurku – dan mereka akan segera menghampiriku dengan senyum manis, melihat seakan-akan aku adalah harta yang tak ada duanya di dunia.

 

“Oh, cucu nenek yang manis, kemarilah Eiwa sayang….”

Nenek datang menghampiriku. Dan aku berlari kecil ke arah nenek, dengan berpura-pura kadang tidak seimbang.

Nenek langsung mendekapku.

“Ne… nek…” Kataku terbata-bata.

“Pintar…” Kata nenek memujiku. “Lihat apa yang nenek bawa untuk ulang tahun pertamamu.”

“Manisan… ho.. re…”

Nenek tertawa seraya memberikan manisan padaku.

“Eiwa, pelan-pelan makannya ya sayang. Nenek tidak tahu, bagaimana kamu sudah bisa mengatakan ini manisan, padahal seharusnya anak seusiamu baru hanya bisa bilang bahbabah… atau sejenisnya.”

Nenek memandangku dengan bangga dan hangat.

“Ka’lena Ei..wa.. pinta’l”

Sial – kenapa aku harus berpura-pura tidak bisa melafalka ‘r’, ini benar-benar merepotkan. Tapi tak apalah, tampaknya nenek gembira mendengarnya.

“Oh, Eiwa sudah semakin lancar berbicara?”

“Iya Yah…” Jawab bunda pada kakek, “Sejak tiga bulan terakhir, dia sangat cepat belajar bicara. Dan sudah bisa mengerti tanya jawab. Aku tidak sabar kapan Eiwa bisa mulai mengobrol dan bisa belajar lebih banyak lagi.” Bunda memandangku dengan senyum lebar.

Maaf Bunda, sebenarnya anakmu ini sudah bisa semuanya itu. Tapi jika aku menunjukkan kegeniusanku lebih dari ini, itu mungkin tidak baik bagi kesehatan jantung kakek dan nenek. Ekstasi berlebihan tidak bagus untuk orang tua.

Ini adalah waktu yang membahagiakan.

Sementara kakek membantu memberikan sentuhan akhir suasana ruang pesta dengan sihirnya, nenek memangkuku dengan memberikanku segelas susu – yah, aku sudah bisa minum dari gelas, minum dari botol kurasa hanya akan mencederai perasaanku sebagai pemikir genius.

Bunda sibuk menyiapkan hidangan di meja, tampaknya akan ada sejumlah tamu. Inilah keluarga kecilku.

Tiba-tiba aku merasakan aura keemasan benderang mendekat ke arah rumah kami, siapakah yang datang?

Previous Pos

Eiwa 2 - Sang Genius Telah Lahir

Hei, di sini Eiwa! Ya, benar, sang genius yang telah lahir ke dunia. Sudah ada ... Read more

Next Pos

Eiwa 4 - Tamu dan Undangan

Tiga kali suara ketukan terdengar di pintu. Kakek bergegas ke depan untuk membukakan pintu. Sepertinya ... Read more

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *