Eiwa 36 – Mendung Peperangan

Angin Timur berhembus pelan, seakan tidak hendak bergegas. Kami telah kembali berada di Rokus, tepatnya di panggung batu terbuka di pusat kota. Iring-iringan warga kota bergerak dengan lambat dan tenang menuju gerbang kota menuju ke tempat yang menjadi perlindungan bagi mereka di saat perang benar-benar tidak terhindarkan lagi.

Sejumlah perempuan dewasa menggendong bayi dan menggandeng balita, anak-anak perempuan menuntun para lanjut usia, sementara anak laki-laki membantu para pemuda dan pria dewasa untuk mengangkut pelbagai bingkisan yang kemungkinan besar adalah sandang dan pangan baik dengan sendiri-sendiri, ataupun bersama menggunakan pedati dan kereta.

Tentu aku pernah membaca tentang pengungsian, namun kali ini baru menyaksikannya sendiri secara langsung. Raut wajah mereka, gerak tubuh mereka, sinar mata mereka, seluruhnya menjadi bahasa yang tak dapat diungkapkan semata-mata oleh kata-kata, apalagi kemudian untuk dituang ke dalam lembar-lembar atau gulungan yang menjadi dingin di rak-rak perpustakaan.

“Kek, mengapa kita pergi?”

Aku mendengar salah satu anak laki-laki yang berjalan di sisi pria tua yang sepertinya adalah sang kakek.

“Karena sebentar lagi, mungkin, kota ini akan menjadi medan peperangan. Kabarnya Aelfwine akan menyerang negeri kita lagi.” Kakek itu berhenti sejenak dan menghela napas panjang, “Sungguh kedamaian yang hanya sejenak.”

“Mengapa mereka menyerang kita? Tidakkah mereka bisa hidup tenang seperti kita?”

Kali ini anak perempuan yang menggandeng tangan si kakek di sisi satunya menggerutu. Dia tampak lebih sedikit lebih tua dibandingkan si anak laki-laki.

Si kakek menggelengkan kepalanya, “Seandainya manusia bisa mudah saling memahami, mungkin ini tidak akan terjadi. Kita tidak dapat memahami mengapa mereka menginginkan perang ini. Dan kita juga tidak bisa berharap besar bahwa mereka akan memahami bahwa kita tidak menginginkan perang. Ketika manusia tidak bisa saling memahami satu sama lain, mereka akan cenderung berlaku tidak mempertimbangkan keberadaan orang lain, mereka melakukan apa yang mereka mau, mendapatkan apa yang mereka ingin, dengan cara apa pun, termasuk kekerasan dan juga peperangan.”

“Kakek, aku tidak paham.” Desah si anak laki-laki.

“Ha ha …, tidak usah mengerti, suatu saat cucu-cucu kakek akan melihat dunia dengan mata mereka sendiri, bukan dengan sepasang mata orang tua yang sudah rabun ini.”

Si kakek tertawa, dan bergegas mengajak kedua cucunya mengikuti barisan, hingga hilang di antara kerumunan yang meninggalkan gerbang.

 

Eileen meremas tanganku dengan erat. Sejak berada di Kota Rokus, kami selalu bersama, oleh karena itu bergandengan tangan akan lebih memudahkan kami berada berdekatan satu sama lainnya.

Kurasa Eileen mendengar percakapan antara kakek dan kedua cucunya. Eileen walau masih kecil, walau tidak lahir dengan abnormalitas yang kumiliki, namun dia dididik dalam lingkungan istana, dibesarkan untuk menjadi pemimpin, pelindung dan pengayom bagi rakyat Glaedwine sebagaimana pangeran dan putri kerajaan lainnya. Sedemikian hingga, sedikit banyak, Eileen pastinya memahami apa yang dimaksudkan oleh si kakek.

Aku juga hanya terdiam. Dalam situasi seperti ini, aku tidak dapat membanggakan dan mengakui bahwa aku adalah seorang jenius. Aku bahkan tidak akan bisa menjawab pertanyaan kedua anak kecil tersebut. Apakah ada utopia bagi mereka yang tidak menginginkan perang, bagi mereka yang hanya ingin hidup dalam damai?

Mungkin tidak. Karena peradaban hanyalah pelapis manis dari hidangan alam yang bernama hukum rimba.

Maka sebaik-baiknya yang manusia dapat lakukan di luar utopianya akan kedamaian adalah bertahan hidup. Menjadi cukup kuat sedemikian hingga tidak berada dalam rantai makanan yang di bagian bawah. Jika tidak, maka semua hanya akan menjadi bahasan dalam rangkaian ide dan kata.

 

“Eiwa, ayo kita bertemu dengan yang lainnya.”

Aku mengangguk, dan mengajak Eileen menuju balairung kota, di mana Bunda, Nona Snotra, Mayor Bram, Kapten Ning, Tuan Danil, Tuan Mile, Nona Moira dan orang-orang penting lainnya berada.

Bunda tidak mengizinkan kami ikut dalam pertemuan perumusan strategi perang. Bukan karena Bunda tidak percaya pada kemampuan kami, namun karena tempat kami bukanlah di medan perang maupun di belakang meja strategi. Kami adalah anak-anak dan masa depan Glaedwine, dan Bunda tidak ingin memberikan kami beban yang tidak seharusnya berada di pundak kami.

 

Kami baru melangkah hingga di tepi panggung batu saat kami mendengar suara tiga lonceng di dekat kami dibunyikan oleh salah seorang prajurit.

Dan semua prajurit serta pejabat yang berada di pusat panggung menyingkir ke arah luar.

Pusat panggung menyala berpendar, aliran menari-nari dengan cahaya yang indah dan cepat, membentuk mandala teleportasi yang khas dengan lambang kerajaan yang cemerlang di ke delapan sisi mandala.

Ada dua kelompok orang yang muncul dari balik pendaran cahaya mandala teleportasi, masing-masing sejumlah enam orang. Satunya mengenakan baju zirah dengan lambang singa bertanduk, dan satunya seragam ringan serba hitam dengan bordiran gagak yang abstrak.

Ordo Singa Putih dan Kelompok Gagak Bayangan.

“Ah, aroma kental mendung peperangan.” Sebuah suara datang dari antara mereka.

Previous Pos

Eiwa 35 - Kesadaran Sebuah Negeri

Tidak jarang aku berpikir, bertanya-tanya, apakah raut wajahku begitu mudah untuk ditebak? Mengapa sering kali ... Read more

Next Pos

Eiwa 37 - Dua Sisi

Bermandikan cahaya atau terselubung kabut misteri, demikian dua sisi Ordo Singa Putih dan Kelompok Gagak ... Read more

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *