Eiwa 37 – Dua Sisi

Bermandikan cahaya atau terselubung kabut misteri, demikian dua sisi Ordo Singa Putih dan Kelompok Gagak Bayangan. Mereka adalah dua sisi mata pedang dan dua sisi perisai Glaedwine. Jika Ordo Singa Putih muncul ke permukaan, maka bergerak di antara bayangan mereka adalah Kelompok Gagak Bayangan.

Kedua kelompok khusus ini hanya menjawab pada satu orang – Flamecape Corinne Cyril – yang merupakan jenderal tertinggi angkatan perang Kerajaan Glaedwine.

Ini adalah pertama kali aku melihat kedua kelompok ini, selama ini hanya mendengar kisah mereka dari nenek, atau membaca dari buku-buku.

Ordo Singa Putih mengenakan zirah tipis yang sepertinya dibentuk dari emas putih dengan ornamen lambang kerajaan di bagian dada, serta membawa satu pedang dan satu belati masing-masing ditempatkan di pinggang kiri dan punggung bawah bagian belakang. Aku bisa melihat formasi sihir pada zirah yang mereka kenakan, yang tentunya tersembunyi dari mata orang biasa.

Sementara Kelompok Gagak Bayangan mengenakan pakaian serba gelap, dengan rompi dari bahan kulit naga bura – bahan yang sangat langka untuk bisa didapatkan, namun memiliki efek perlindungan dan kamuflase yang baik. Mereka mengenakan penutup kepala dan topeng yang khas, kecuali sepasang mata, maka tidak akan ada yang bisa melihat siapa sebenarnya di balik topeng tersebut. Mereka tidak terlihat membawa senjata, namun tentu saja dari yang kutahu, mereka tidaklah sesederhana itu. Jangankan untuk mengintip senjata apa yang mereka bawa, bahkan kecuali mereka menginginkan, tidak akan ada orang yang bisa sadar bahwa ada kelompok ini berdiri tepat di sebelahnya.

 

Setelah seluruh pendar mandala teleportasi meredup, kedua belas sosok tersebut melihat sekeliling sebelum pandangan mereka tertuju pada kami dan akhirnya terkunci pada Eileen.

Mereka pun berjalan beberapa langkah maju ke arah kami, “Hormat Kami Tuan Puteri.” dengan setengah berlutut sambil menempelkan tinju kanan di dada kiri, mereka  memberi salam militer yang khas bagi keluarga kerajaan.

“Berdirilah.” Eileen menjawab pelan.

Kedua belas sosok tersebut segera berdiri dengan sigap. Sinar mata mereka menunjukkan hormat yang mendalam pada anggota keluarga kerajaan.

“Apa kalian hendak bertemu dengan mayor dan yang lainnya?” Eileen bertanya pada mereka.

“Ya Tuan Puteri. Kami harus segera melapor pada mayor.”

Meski pun mereka berada di bawah perintah absolut jenderal tertinggi dan tidak menjawab pada pejabat militer mana pun, apalagi pejabat publik, mereka kadang tetap merasa perlu berkoordinasi dengan pejabat setempat dalam situasi tertentu. Misalnya, dalam situasi perang, dan penetapan strategi awal saat perang.

“Kalau begitu kita bersama-sama menuju balairung kota.”

Kami pun melangkah bersama menuju balairung kota, tapi mungkin tepat dikatakan bersama-sama. Anggota Ordo Singa Putih secara otomatis mengambil formasi mandala enam sudut di sekitar kami, karena salah satu kewajiban mereka juga menjaga anggota keluarga kerajaan. Sementara Kelompok Gagak Bayangan – tidak perlu ditanyakan lagi – mereka telah lama tidak terlihat, bahkan tidak bayangan mereka juga!

“Apakah kamu Eiwa?”

Salah satu anggota ordo yang berjalan di sisi kananku bertanya.

“Eh, bagaimana Kakak bisa tahu?”

Dia mungkin berusia jauh lebih tua, namun aku suka memberi sedikit kata pemanis, apalagi dia merupakan satu-satunya anggota ordo wanita. Dan entah kenapa, dia terasa cukup familier.

“Ha ha…, jika kita mencari anak seusiamu, yang memiliki dua tanda pengenal dari Akademi Utama dan Militer Utama, maka anak itu hanya bisa berasal dari satu keluarga bukan?”

“Ah.. ?”

Ya ampun, bagaimana aku bisa lupa. Selama aku membawa tanda pengenal ke mana pun pergi, tidak sulit bagi orang yang memiliki informasi rinci mengenai hal-hal terkait dengan keluargaku bisa dengan langsung menduga identitasku. Ah, informasi memang segalanya.

Untungnya tidak semua orang setajam anggota ordo, jika tidak aku mungkin harus menyembunyikan identitasku saat akan bertualang lagi. Semisalnya saja, fakta bahwa Marcellin tidak bisa menduga identitasku meski aku ada di sebelah Eileen menandakan bahwa identitasku tidak mudah ditebak meski oleh mereka yang berprofesi sebagai mata-mata. Tidak akan lucu, jika beredar kabar ‘Eiwa Sang Kesatria Sihir sedang berbelanja di pasar gelap’ ketika aku sedang mencari barang-barang terbatas dan terlarang saat berpetualang nanti.

“Eiwa, sebaiknya urungkan niat itu.”

“Eee… Eileen apa kamu sedang membaca pikiranku?” Oh, aku lupa aku sedang berada di sebelah mesin kejujuran yang berjalan.

“Apa Eiwa lupa bagaimana khawatirnya bibi?” Eileen meremas genggamanku, “Dan aku tidak perlu membaca pikiranmu untuk tahu itu!”

Aku menggelengkan kepalaku, Bunda mungkin akan setuju jika aku pergi berpetualang, tapi tidak akan setuju jika aku pergi tanpa pengawasan.

Tapi sebelum itu, aku merasa adanya desakan untuk bisa menangkap salah satu Kelompok Gagak Bayangan, dan memohon untuk diajarkan cara membuat ekspresi wajah yang tidak terbaca secara alami.

 

Kami berlanjut berjalan, dan pembicaraanku dengan Kak Karla tetap berlanjut. Nama lengkapnya adalah Viatrix Kendall Karla, dan merupakan anggota termuda dalam rombongan ordo kali ini, tepatnya dua puluh tiga tahun. Rupanya dia dan bunda cukup dekat, dan kami mengobrol banyak hal tentang ordo. Rupanya aktivitas ordo dan identitas anggota ordo tidak terlalu rahasia, hanya saja buku mungkin tidak akan memuat semua karakter dan kegiatan mereka, sehingga aku tidak tahu banyak.

Dan akhirnya, kami tiba di balairung kota Rokus.

Previous Pos

Dandelion 30 - Bijak di Bawah Atap Langit

Jika memandang ke arah langit yang bergelora dengan hempasan badai dan tarian topan. Maka orang ... Read more

Next Pos

Eiwa 38 - Strategi untuk Masa Depan

Beberapa orang tampak berlalu lalang dengan bergegas, meja-meja balairung kota dipenuhi dengan pelbagai gulungan, tumpukan ... Read more