Eiwa 38 – Strategi untuk Masa Depan

Beberapa orang tampak berlalu lalang dengan bergegas, meja-meja balairung kota dipenuhi dengan pelbagai gulungan, tumpukan berkas, peta juga maket miniatur wilayah Rokus dan pegunungan dan lembah Glyndwr beserta sejumlah hutan pinus yang ada di sekitarnya.

Orang-orang begitu sibuk, jika tidak sedang melihat langsung pada bangunan balairung balai kota, mungkin aku akan menduga bahwa saat ini aku sedang berada di tengah pasar rakyat.

Beberapa orang bahkan menunggang kuda dengan tergesa, melesat ke pelbagai sudut dan sisi kota dengan membawa kotak-kota berukuran sedang hingga besar.

“Oh, Tuan Puteri, kalian telah kembali? Baru saja kami hendak mengirimkan orang untuk menjemput Anda.”

“Terima kasih atas perhatian Anda Mayor.” Eileen lalu mengisyaratkan agar para anggota ordo mengambil posisi di sebelah kirinya, “Sebagaimana yang Anda telah tahu, mereka adalah Ordo Singa Putih yang dikirim untuk menghadapi kegentingan saat ini. Kami berharap, kalian dapat bekerja sama dengan baik.”

“Jangan khawatir Tuan Puteri, kami berusaha dengan sebaik mungkin.” Mayor Bram kemudian melihat ke arah pimpinan ordo yang tepat ada di sebelah kiri Eileen, “Tuan Orestes, lama tidak berjumpa, aku berharap dapat mengatakan bahwa senang bertemu dengan Anda lagi, namun situasi kita mendesak saat ini, setelah semua ini, saya berharap tuan tidak menolak undangan perjamuan kami.”

“Tentu saja Mayor, kehormatan bagi kami menghadiri undangan perjamuan Anda.”

Æðelwine Orestes adalah pimpinan Ordo Singa Putih dalam misi kali ini. Setelah percakapan dengan Kak Karla, aku tahu bahwa dia cukup terkenal di Glaedwine. Saat muda, dia merupakan pemenang kompetisi bela diri tiga kali berturut-turut.

 

Tiba-tiba ada yang menyentuh kakiku, saat aku asyik mendengarkan percakapan di hadapanku. Oh, Putih Salju. Sepertinya dia ingin aku mengikutinya ke suatu tempat.

Tidak jauh dari balairung terdapat sebuah taman yang unik, rumputnya berwarna abu-abu, dengan jalan dari batuan andesit putih salju. Sedapat sebuah kolam di tengah danau dengan permukaan air yang membeku dan menjadi seperti lapisan kaca bening, di mana orang bisa melangkah lalu lalang di atasnya sambil melihat flora dan fauna pada kolam dan dasarnya.

Tepat di tengah kolam terdapat sebuah gazebo delapan sisi yang indah dengan meja bundar dan tiga kursi batu yang mengelilinginya.

Dua dari kursi tersebut telah terdapat dua sosok perempuan yang anggun cantik memesona duduk di situ. Dalam sejumlah kesusastraan, aku sering membaca ini diibaratkan seperti lukisan bidadari dari kahyangan.

“Eiwa, kemarilah.”

Bunda memanggilku dan menunjuk pada salah satu kursi yang masih kosong.

Aku mengangguk, dan segera menuju ke sana.

Di atas meja aku melihat terdapat beberapa mutiara berpendar keemasan. Ah ya, aku tahu benda tersebut,  jika tidak keliru namanya adalah mutiara giok emas, terbuat dari giok yang secara alami memiliki sistem ethereal unik, sedemikian hingga bisa menyimpan mana dan sering kali dimanfaatkan untuk menyimpan banyak hal, seperti naskah, manuskrip, resep rahasia, ilmu bela diri, jurus pamungkas, hingga ingatan seseorang.

Aku kaget saat melihatnya, namun segera kusembunyikan kekagetanku. Setidaknya di atas meja ada kurang dari sepuluh mutiara giok emas yang bertumpuk satu sama lain. Bahkan jika aku mengira-ngira, ruang harta kerajaan Glaedwine akan sangat beruntung jika memiliki satu saja benda ini.

Kembali lagi, mengingat identitas Nona Snotra dan Bunda, kurasa, tumpukan ini justru tampak wajar.

“Eiwa, Bunda telah berbicara banyak dengan Nona Snotra tentangmu. Sehingga kami telah mengambil beberapa keputusan untukmu.”

“Eeee …” Boleh aku berkata bahwa aku tidak paham?

“Mengenai apakah perang akan terjadi atau tidak. Bunda tidak pernah khawatir akan apakah Glaedwine kalah dalam peperangan, karena hal itu nyaris tidak mungkin terjadi. Bahkan jika langit pun runtuh, Bunda tidak khawatir.

Namun yang membuat Bunda khawatir jika terjadi perang adalah dampak perang terhadap perkembangan mentalmu. Anak-anak yang tumbuh di sekitar perang akan berbeda dengan mereka yang tumbuh dalam lingkungan negeri yang aman dan makmur.

Bunda tidak ingin Eiwa tumbuh dengan membawa sentimen negatif peperangan, namun di sisi lain, Bunda juga tidak ingin melihat Eiwa tumbuh dengan tak acuh terhadap kenyataan dunia di sekitar kita yang sesungguhnya.

Setelah kami berbicara tentang perkembanganmu Nak, kami memutuskan bahwa Eiwa tidak akan tumbuh sebagai bunga di dalam rumah kaca, karena kami percaya, bahwa Eiwa punya bakat untuk tumbuh menjadi pohon yang menjulang tinggi dan berakar dalam, yang mampu menahan amukan hujan badai kehidupan.”

Bunda terdiam, dan melirik ke arah Nona Snotra.

“Eiwa, aku dan ibumu memutuskan, bahwa kamu akan menghabiskan masa kecilmu hingga usia sepuluh tahun di Glaedwine. Setelah itu, Eiwa akan masuk ke Akademi Agung Darija Harsh, tentu aku yakin Eiwa akan lolos seleksinya bukan?” Pandangan serius Nona Snotra membuatku merinding dan meneteskan keringat dingin, seperti boneka wayang aku hanya bisa mengangguk turut, entah apa jadinya nasibku jika menolak. “Aku akan mempersiapkan apa yang Eiwa perlukan di sana, kita akan bertemu di sana. Selama aku pergi, pengawasan latihanmu akan dilakukan oleh Tuan Wendell Wickaninnish. Dia adalah salah satu pelatih magi dan kesatria terbaik yang ada di bawah langit.”

“Siapa…?!” Siapa lagi ini, jika aku menulis riwayat hidupku, bahkan mungkin belum ada sampai empat puluh bab, siapa lagi tokoh baru ini.

Sayangnya aku tidak perlu waktu lama untuk tahu jawabannya, sepasang mata memandangku dengan bangga, mengangkat kepalanya tinggi, dan ekornya yang seperti beludru salju.

Eeee … Putih Salju?

Previous Pos

Eiwa 37 - Dua Sisi

Bermandikan cahaya atau terselubung kabut misteri, demikian dua sisi Ordo Singa Putih dan Kelompok Gagak ... Read more

Next Pos

Eiwa 39 - Perpisahan Sementara

Keheningan panjang muncul di atas kolam yang membeku. Aku ternganga seakan-akan ada gadamala yang tersangkut ... Read more