Eiwa 39 – Perpisahan Sementara

Keheningan panjang muncul di atas kolam yang membeku. Aku ternganga seakan-akan ada gadamala yang tersangkut di tenggorokanku.

“Kupikir dia betina?”

Aduh…, seharusnya aku tidak menanyakan itu. Memang benar, penasaran itu bisa membunuh. Aku mengelus-elus pipiku sendiri yang sekarang dihiasi sejumlah bekas cakaran.

“Seharusnya kamu tidak menanyakan itu.”

“Aku tahu.”

“Baiklah, jika demikian, aku akan menunggumu di akademi jika demikian. Aku akan meninggalkan negeri ini, dan mungkin tidak akan kembali untuk jangka waktu yang lama, sampai lima tahun lagi.”

“Kak Snotra akan pergi…?”

“Eiwa, tiada pesta yang berlangsung selamanya. Ada beberapa hal yang hendak kuselesaikan terlebih dahulu. Kita akan bertemu lagi nanti.”

Nona Snotra tersenyum dengan sebuah senyuman yang sangat langka, ah! aku harus mengingat senyuman ini, jika aku bisa menjual lukisan Nona Snotra yang tersenyum, aku pasti akan mendapatkan banyak keuntungan! Ho ho…, aku memang genius.

“Eiwa…, sebaiknya kamu tidak berpikir yang aneh-aneh.”

Aaaa … baiklah, rencana tersebut ditunda terlebih dahulu.

“Lalu aku memiliki ini, untukmu dan Eileen.”

Nona Snotra mengibaskan tangannya seakan-akan mengambil sesuatu dari udara, dan dua benda muncul di tangannya. Tidak dipungkiri memang gelar Angelomagi Ruang dan Waktu, melipat ruang dan memotong waktu bukanlah hal sulit baginya.

Satunya adalah sebuah gelang berwarna putih, satunya lagi adalah sepasang hastapa. Gelang berukuran kecil tersebut tidak terlalu tebal, rangkaian aksara kuno yang tembus pandang dan menghasilkan getaran mana halus. Sementara sepasang hastapa di sebelahnya tampak cukup wajar sebagaimana sarung tangan berlapis baja yang digunakan para kesatria kerajaan.

“Gelang dan hastapa ini adalah hadiah dariku untuk kalian. Gelang ini untuk Eileen, dan sepasang hastapa ini untukmu Eiwa.” Nona Snotra meletakkan kedua benda tersebut di tanganku.

Kami mungkin belum lama saling mengenal, kami mungkin bertemu tanpa sengaja. Tapi entah kenapa, pertemuan singkat ini menjadi begitu terkesan. Kami sudah seperti kakak beradik yang sesungguhnya.

Aku menerima keduanya, “Terima Kak.”

“Baiklah, jangan menangis. Kakak pergi dulu, Eiwa harus tetap di sini. Meski pun ibumu sudah berkata tidak khawatir bahwa negeri ini akan kalah jika peperangan terjadi, namun Eiwa perlu menjadi bagian dari semua ini. Kakak tidak akan tahu apakah Eiwa akan ikut serta dalam peperangan atau tidak, selama Eiwa tidak pergi, Eiwa adalah bagian dari peperangan juga adalah bagian dari perdamaian. Bukankah Eiwa ingin menjadi seorang kesatria? Seorang kesatria tidak akan meninggalkan medan perangnya, ini juga adalah bagian dari Pono. Eiwa, kamu mengambil jalan yang berbeda dibandingkan para magi dan kesatria pada umumnya, dan jalan yang kamu ambil tidak mengizinkanmu untuk berpaling atau lari darinya. Ingatlah ini baik-baik, dan sampai jumpa kembali.”

Nona Snotra menghapus air mataku saat aku menunduk. Dan ketika aku menatap ke depan, dia sudah tidak ada lagi.

“Kalian benar-benar dekat.”

“Mungkin bisa dikatakan demikian.”

“Tapi sebaliknya Eiwa bahkan tidak menangis ketika meninggalkan rumah untuk menghilang entah ke mana.”

“Eeee …”

 

Aku dan bunda kemudian kembali menuju balairung. Kini di pundak kiriku ada si Putih Salju, atau Tuan Wendell Wickaninnish, yang entah dengan bagaimana, dapat berubah menjadi seukuran kepalan tangan dan duduk dengan seimbang.

“Floretta…!”

Nona Karla tiba-tiba setengah berlari ke arah kami dan berpelukan dengan Bunda. Kurasa mereka memang teman dekat jika dilihat dari reaksi Bunda.

“Bagaimana, apakah kalian sudah selesai berdiskusi?”

“Ya, kita akan menggunakan yang itu, seperti dalam situasi ini, kita tidak memiliki banyak pilihan.”

Bunda mengangguk, “Jika demikian, gunakanlah ini.”

Bunda menyerahkan sejumlah mutiara giok emas kepada Nona Karla.

“Terima kasih.”

Karla kembali kepada yang lain, dan membagikan mutiara giok emas tersebut kepada semua anggota ordo, lalu mereka segera bergegas meninggalkan balairung dengan menunggang kuda yang disediakan.

 

“Bunda, untuk apa kita menggunakan mutiara giok emas?”

Bunda mengoyak rambutku sambil tersenyum, “Itulah yang membuat Bunda yakin, bahwa negeri ini akan baik-baik saja. Yang tersimpan di dalamnya adalah senjata rahasia yang ditinggalkan oleh ayahmu untuk melindungi negeri ini, adikarya raja semesta strategi untuk melindungi negeri di mana putranya lahir dan tumbuh menjadi dewasa. Eiwa akan segera menyaksikan kemampuannya.”

Aku bisa melihat rasa bangga dari raut wajah dan sinar mata Bunda. Ini membuatku bertanya-tanya, sosok seperti apakah ayahku.

Previous Pos

Eiwa 38 - Strategi Demi Masa Depan

Beberapa orang tampak berlalu lalang dengan bergegas, meja-meja balairung kota dipenuhi dengan pelbagai gulungan, tumpukan ... Read more

Next Pos

Eiwa 40 - Misi Bunuh Diri

Tidak pernah ada yang berbicara tentangnya di rumah, tidak juga di tempat lainnya. Aku telah ... Read more

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *