Eiwa 40 – Misi Bunuh Diri

Tidak pernah ada yang berbicara tentangnya di rumah, tidak juga di tempat lainnya. Aku telah lama berpikir bahwa topik tersebut mungkin saja adalah sebuah tabu pada keluarga kami. Aku pun telah lama memutuskan untuk tidak bertanya, walau sesekali atau dua kali aku menemukan seseorang menghubungkanku dengannya.

Seseorang yang mendapatkan penghormatan dari pribadi-pribadi yang tidak sedikit berpengaruh di Glaedwine, tentunya ayah pasti bukan sosok sembarang. Namun seperti apa dia?

“Eiwa, di mana Kak Snotra.”

Suara lembut datang membangunkanku dari lamunan.  Saat aku menoleh, Eileen tampak memandangku dengan penuh tanda tanya.

“Kak Snotra baru saja pergi, dia menitipkan salam untukmu, dan meninggalkan hadiah untuk kita.”

Aku tidak bisa mengibaskan tangan dan mengambil benda dari ruang hampa seperti Nona Snotra, namun aku masih bisa mengambil dari ruang dimensi penyimpanan yang kuciptakan sendiri, tentu saja cara ini jika dilakukan di tempat publik akan menarik perhatian banyak orang.

“Ini…, gelang ini hadiah dari Nona Snotra untukmu.”

Eileen mengulurkan tangan kanannya, dan aku memasangkan gelang tersebut perlahan pada pergelangan tangannya yang mungil.

Pada awalnya, gelang ini berukuran besar, namun setelah berada di pergelangan tangan Eileen, dia menyusut menjadi kecil, sedemikian hingga cukup pas berada di tangan mungilnya. Sesaat aku melihat Eileen agak terkaget, dan kemudian tersenyum simpul, aku pikir dia menyukai gelang ini.

“Eileen suka?”

“Mnnn ….” Dia mengangguk.

“Bagus.” Aku menelus kepala gadis kecil ini, dan aku menghela napas panjang, kehidupan istana membuatnya menjadi dewasa sebelum waktunya. Dan sepertinya terkadang aku melihat bahwa dia rindu untuk diperlakukan sebagaimana anak-anak pada umumnya.

Ah, lihatlah apa yang kupikirkan, aku hanya beberapa bulan lebih tua dibandingkan Eileen, jika bukan karena sejak lahir aku sudah memiliki keistimewaan, mungkin aku tidak akan berpikir seperti ini, atau mampu berpikir seperti ini.

“Eiwa, Eileen bukan anak kecil lagi.” Dia berkata setengah menggerutu.

Aku pun hanya bisa salah tingkah. Terkadang aku menemukan bahwa Eileen memiliki rasa harga diri yang tinggi.

“Ya … ya …, Eileen sudah tidak kecil lagi.”

Gadis mungil itu mengangguk cepat.

“Eiwa, bantu Eileen kali ini.” Dia mendekat dan menggenggam erat kedua tanganku. Tatapan sepasang mata yang laksana mutiara bersinar di kedalaman lautan membuatku sulit menolaknya.

“Mengapa tidak meminta bantuan Bunda sekalian?”

Aku percaya, Eileen pasti menyadari dari percakapan kami berempat sebelumnya, bahwa Bunda adalah seorang Angelomagi. Walau tentunya putri ini tidak akan berbicara tentang hal tersebut di depan publik.

“Bibi adalah warga sipil, tidak mungkin Eileen meminta warga sipil untuk masalah ini.” Eileen menggelengkan kepalanya dengan tegas.

Tunggu dulu! Apa itu bermakna aku bukan warga sipil? Aku meremas-remas pelipisku.

“Lalu aku?”

“Eiwa adalah sahabat baik Eileen.” Senyumnya begitu cemerlang, “Dan bukankah Eiwa suka berpetualang?” Dia mengedipkan sebelah matanya.

Ooo … aku seperti menyaksikan lahirnya iblis kecil.

Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, “Jadi apa yang Eileen rencanakan kali ini.”

“Penyusupan!” Dia mengepalkan tangannya dengan penuh semangat.

“Tidak! Serahkan itu pada mereka yang lebih ahli! Jangan melakukan hal-hal yang begitu berbahaya.”

Aku menolaknya mentah-mentah. Mengajak seorang putri kerajaan menyusup ke belakang garis musuh sama saja dengan mengundang hukuman gantung atau hukuman pancung. Aku bahkan tidak ingin memikirkannya.

“Uh…” Eileen memasang wajah masam, “Lalu siapa yang bisa menyusup ke belakang garis musuh di ketinggian di antara armada yang bersiaga penuh?”

Aku hanya mengangkat bahuku.

Seketika juga Eileen menarikku setengah berlari keluar balairung, sambil setengah berteriak, “Bibi, Eileen pinjam Eiwa sebentar ya.”

Eee … mengapa kamu seperti meminjam anak orang untuk diajak bermain.

“Hati-hati di perjalanan Eileen, pulanglah lebih awal dan jangan melewatkan makan malam. Dan Eiwa, jika terjadi sesuatu pada Eileen, lupakan saja makan malammu!”

Eeeeee … Ini misi bunuh diri, ini benar-benar misi bunuh diri. Ooo… Dewi Astraea, lindungilah pemuda tampan, genius nan malang ini, walau aku bukan pengikutmu, aku berjanji akan memberikan persembahan padamu.

 

Di luar sepengetahuanku, sebuah kuil di atas awan jauh di ujung dunia, tiba-tiba bersinar terang. Sosok bagai dewi surgawi muncul di depan pintu kuil, seraya berucap, “Oh, ini menarik, dia penerus pria itu?”

Previous Pos

Eiwa 39 - Perpisahan Sementara

Keheningan panjang muncul di atas kolam yang membeku. Aku ternganga seakan-akan ada gadamala yang tersangkut ... Read more

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *