Eiwa 8 – Sobekan dari Masa Lalu

Siapa yang datang ke area terlarang yang paling terpencil di siang bolong seperti ini. Aku tak habis pikir, dan mereka tampak terburu-buru. Jantungku mulai berdebar kencang, aku tidak ingin ditemukan menyusup ke dalam area rahasia, karena orang-orang akan mulai curiga.

Aku tidak berani membuat gerakan, dengan menggunakan teknik “Bayangan Dunia di Balik Langit” – salah satu teknik rahasia dengan nama keren yang kutemukan ketika aku bersih saat pertama kali masuk ke dalam area rahasia – aku menutupi keberadaanku dari pengindraan kebanyakan makhluk hidup, tentunya termasuk manusia. Jika orang tak benar-benar mencariku, maka akan sulit bagi mereka untuk menemukanku.

Suara sepasang langkah kaki tersebut semakin jelas, dan percakapan mereka juga mulai terdengar. Nada mereka cukup serius dan pelan.

“Aku percaya di sini sudah aman, tidak akan ada yang mendengar kita di sini.”

“Bicaralah! Ada apa?”

“Mata-mata yang dikirim ke Aelfwine telah kembali membawa kabar.”

“Baik atau buruk?”

“Buruk…”

“Sudah kuduga.”

“Mereka akan menyerang kembali dalam lima tahun, kali ini tidak lagi diam-diam. Persahabatan antara dua kerajaan sepertinya sudah tidak bisa dipertahankan lagi.”

“Raja baru Aelfwine, belum juga dua puluh tahun naik takhta sudah berhasil membuat dua kerajaan bermusuhan.”

“Kali ini kita tak akan membiarkan mereka sombong. Ordo Singa Putih sudah lengkap kembali ke Glaedwine dalam tiga bulan. Kita tidak akan membiarkan pengorbanan Komandan Cyril pada perang sebelumnya sia-sia.”

Mendengar kata-kata ‘Komandan Cyril’, pikiranku langsung kosong. Bunda tidak pernah bercerita tentang ayah, tapi saat melihat foto ayah yang mengenakan seragam kesatria kerajaan, aku berpikir bahwa ayahnya bagian dari militer kerajaan. Sehingga kata-kata ‘Komandan Cyril’ mau tak mau membawa dugaanku, bahwa yang dimaksud adalah ayah.

Aku tidak bisa terburu-buru, aku harus menenangkan diri terlebih dahulu. Bunda mungkin tak akan pernah bercerita, setidaknya melihat usiaku, tidak dalam waktu dekat ini.

Maka satu-satunya petunjukku adalah percakapan kedua orang ini. Setidaknya aku tahu bahwa sesuatu terjadi di masa lalu antara Glaedwine dan Aelfwine, dan itu terjadi pada periode sebelum aku lahir hingga dua puluh tahun yang lalu, ini berarti aku harus mempersempit pencarian informasi antara kurun waktu lima belas tahun tersebut.

 

Tidak ada!

Tidak ada satu pun informasi di perpustakaan yang berisi petunjuk. Semua data dan berita yang masuk menandakan hubungan Glaedwine dan Aelfwine masih baik-baik saja.

Apa aku mendengar keliru?

Tidak! Aku yakin tidak mendengarnya keliru. Tapi mengapa tidak ada petunjuk satu pun? Siapa yang bisa menyembunyikan gajah di siang bolong. Bahkan tampaknya, kenyataan justru terbalik. Buktinya, akademi kerajaan masih berisi banyak pelajar dari negeri tetangga, termasuk Aelfwine. Bukankah ini menunjukkan bahwa hubungan kedua belah pihak baik-baik saja.

Tunggu dulu, paradoks informasi ini berbau tidak sedap.

Di satu sisi, tampaknya ada rahasia yang ditutupi oleh kerajaan sendiri, bahwa situasi antara dua kerajaan buruk dan akan berujung pada perang. Ini sudah terjadi sebelumnya, namun serangan dari Aelfwine dilakukan secara diam-diam…

Ah! Ini berarti tidak pernah ada serangan secara terbuka? Atau berarti Aelfwine tidak pernah menyatakan perang terbuka? Mungkin mereka tidak mengakui serangan sebelumnya? Itu sebabnya tidak ada dokumen apa pun yang dibuka untuk khalayak umum mengenai situasi perang antara Glaedwine dan Aelfwine.

Di permukaan, semua tampak tenang dan wajar, namun di baliknya, persiapan perang besar sepertinya sedang dilakukan oleh kedua belah pihak.

Untuk membuktikan hipotesisku ini tidak akan mudah, setidaknya jika kerajaan menyiapkan perang, mereka pasti akan mempersiapkan jauh dari keramaian. Tidak mungkin dilakukan di kotaraja.

Aku tidak akan tahu perkembangan selanjutnya, ini seperti jalan buntu saja. Kupikir aku bisa menemukan sedikit jejak tentang ayah.

Aku terduduk di sebuah meja baca di pinggir jendela kaca. Memandang awan yang berarak perlahan menuju senja.

Kupikir, kecuali kebetulan aku menemukan informasi lain dari mata-mata seperti beberapa hari yang lalu, mungkin aku bisa menemukan petunjuk lain.

Oh…! Iya benar…! Tiba-tiba sebuah lentera menyala di atas kepalaku. Mengapa hal ini tidak terpikirkan olehku: mata-mata.

Seharusnya, tidak hanya Glaedwine yang bisa mengirim mata-mata ke Aelfwine, sebaliknya pun bisa.

Aku tersenyum lebar menghadap ke langit di luar jendela.

Menangkap mata-mata? He he he…, ini baru menarik.

Mata-mata, kuharap kamu tidak akan mengecewakanku karena perpustakaan sudah mulai membosankan. Jika kamu juga membosankan, aku akan menjadikanmu sahabat para kunang-kunang di pojok Selatan kotaraja.

Dan untuk catatan, pojok Selatan kotaraja adalah pemakaman umum.

Previous Pos

Eiwa 7 - Sungai Pengetahuan

Tidak terasa, saat ini usiaku sudah mencapai lima tahun. Tidak seperti pada pencapaian usia-ku setahun, ... Read more

Next Pos

Eiwa 9 - Memerangkap

Malam harinya aku minta izin pada bunda, kakek dan nenek untuk bisa berjalan-jalan mengitari kota ... Read more